Bupati Patahudding Dorong dan Kembalikan kejayaan Komoditi Kakao di Tanah Sawerigading

BERANDANEWS – Luwu, Bupati Luwu Patahudding, memprioritaskan Program Komoditas kakao yang merupakan salah satu komoditas unggulan strategis perkebunan yang tentunya memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia khususnya di Kabupaten Luwu. Belopa, Selasa (28/4/2026).

Sebagai penghasil devisa Negara, sumber pendapatan Pekebun, penciptaan lapangan kerja, mendorong agribisnis dan agroindustri dalam Negeri, pelestarian lingkungan serta pengembangan wilayah dan Kabupaten Luwu akan ikut andil.

Sebagaimana diketahui bahwa pada tahun 2024 nilai ekspor kakao dengan produk turunannya mencapai US$2,646 juta dengan volume ekspor 348.092 ton. Di sisi lain usaha kakao melibatkan 1,496 juta keluarga Pekebun rakyat.

Berdasarkan data statistik perkebunan, pada tahun 2024 luas areal kakao mencapai 1.367.426 ha dengan produksi 617.112 ton. Berdasarkan area pengusahaan kakao, sekitar 99,59% atau seluas 1.361.835 ha dikelola melalui Perkebunan Rakyat (PR) dan sisanya dikelola oleh Perkebunan Besar Negara (PBN) dan Perkebunan Besar Swasta (PBS) sebesar 0,41%. Berdasarkan data statistik tersebut dapat dikatakan bahwa kakao merupakan komoditas rakyat karena sebagian besar diusahakan oleh perkebunan rakyat.

Saat ini kakao Indonesia dihadapkan dengan penurunan produksi yang cukup signifikan sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan industri dan mengakibatkan peningkatan impor yang berdampak pada 9 industri pengolahan kakao di Indonesia berhenti beroperasi, dimana sebelumnya terdapat 20 industri pengolahan kakao di tahun 2016 dan saat ini hanya 11 industri yang masih beroperasi.

Di tingkat lapangan terdapat berbagai permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan tanaman kakao di Indonesia.

“Gagalnya atau menurunnya produksi kakao di Sulawesi Selatan (Sulsel) khususnya di Luwu merupakan masalah kompleks yang telah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir, mengubah kabupaten ini dari salah satu produsen utama menjadi wilayah dengan penurunan produktivitas. Fenomena ini terjadi akibat kombinasi faktor teknis, alam, dan sosial ekonomi,” lanjut Bupati Patahudding yang lebih akrab disapa Aji Pata, saat melakukan peninjauan kebun kakao di Padang Kamburi, Sabtu (25/4/2026).

“Beberapa penyebab utama kegagalan atau penurunan produksi kakao di Sulsel, pada umumnya di Luwu Raya. Serangan hama dan penyakit tanaman. Ini adalah faktor utama penurunan produksi, khususnya serangan hama Penggerek Buah Kakao (PBK), penyakit busuk buah (Phytophthora palmivora), dan Vascular Streak Dieback (VSD). Infeksi ini dapat menyebabkan kehilangan hasil hingga 30% – 90%,” urai Aji Pata

Selain itu sambung Aji Pata. Usia tanaman yang sudah terlalu Tua. Banyak perkebunan kakao di Luwu yang tanamannya sudah memasuki usia “apkir” atau tidak produktif lagi, sehingga memerlukan peremajaan total.

“Kemudian, fenomena dinamika atmosfer, seperti kemarau panjang dan curah hujan tinggi yang tidak menentu, mengganggu masa berbunga dan berbuah, serta memperparah serangan hama penyakit,” terang Aji Pata

Aji Pata juga membeberkan bahwa belakangan masyarakat membutuhkan pendampingan secara menyeluruh. Selain itu, keterbatasan Bibit Unggul dan Pupuk. “Terbatasnya akses terhadap bibit unggul tahan hama dan pupuk berkualitas membuat petani kesulitan memulihkan produktivitas lahan,” jelasnya.

Sehingga masyarakat kita banyak yang melakukan konversi lahan ke tanaman lain. “Akibat hasil kakao yang tidak menentu dan harga yang kadang anjlok, banyak petani beralih fungsi lahan menjadi perkebunan jagung atau padi,” ucap Aji Pata.

Dalam kondisi seperti itu ditambah lemahnya manajemen budidaya. Sebagian petani dinilai kurang maksimal dalam melakukan perawatan kebun (manajemen budidaya yang buruk-red), seperti pemangkasan dan pemupukan yang kurang optimal.

“Jadi sekarang ini selain mengadakan bibit unggulan, kita juga mengupayakan pemulihan. Kita berusaha membangkitkan kembali budidaya kakao dengan memberikan bantuan teknis dan peremajaan bibit, serta menggalakkan program rehabilitasi kakao.” Tutup Bupati Luwu Patahudding.

Senada dengan itu, Nur Samsi, S. Hut, selaku tim Teknis program kakao mengatakan bahwa sejak tahun 2025 hingga tahun ini (2026-red) semua bibit yang sudah diverifikasi akan direalisasikan ke masyarakat melalui kelompok tani binaan.

Bupati Luwu memilih komoditi tanaman kakao untuk dikembangkan di Luwu karena menurut Nur Samsi, tentunya Bupati Patahudding, tahu persis peluang kakao kedepan. Kakao merupakan kebutuhan global utama untuk industri makanan coklat dan penggerak ekonomi Dunia.

“Khususnya di Luwu luas perkebunan kakao 27.152.32 ha, dengan jumlah produksi 13.155.12 kg per tahunnya. Luwu pernah mencapai 1200 kg per ha. Namun saat ini Luwu hanya memproduksi 800 kg per ha dalam per tahunnya. Berdasarkan data saat ini Luwu jauh di bawah standar capaian maksimal produksi sebelumnya. Sehingga Pemerintah akan berupaya mengembalikan dan mengangkat kejayaan Luwu sebagai sumber kakako terbaik dan berdaya saing,” kata Nur Samsi.

Adapun persiapan bibit unggul kakao yang dipersiapkan sesuai dengan kontrak untuk persiapan lahan kebun dengan luas 8.000 ha. Dengan jumlah bibit sebanyak 8 juta pohon yang siap disalurkan ke petani melalui kelompok tani yang sudah terdaftar, mulai dari Larompong Selatan, sampai Lamasi. Semua kelompok tani komoditas kakao di Luwu telah mengusulkan permohonan sejak tahun 2025 lalu, dan lahan yang terluas adanya di wilayah Kecamatan Bupon, menurut Nur Samsi.

“Kami di Dinas Pertanian Luwu yang membidangi perkebunan berupaya agar semua kelompok tani khususnya petani kakao yang telah terdata, yang mengajukan permohonan bantuan pengadaan bibit kakao akan diupayakan agar menjadi bagian dari program ini,” kata Nur Samsi.

Nur Samsi, dalam keterangan resminya kepada wartawan di ruang kerjanya, Selasa (28/4) bahwa sumber anggaran program Nilai Tambah dan Daya Saing Industri. “Berdasarkan surat keputusan Direktur Jenderal Perkebunan Nomor 61/Kpts./KB.410/E/03/2026.

“Sumber anggarannya dari APBN Kementan RI, Kabupaten hanya sebagai penerima manfaat saja. Adapun jenis bibit yang dikembangkan dan akan disalurkan ke penerima manfaat di kabupaten Luwu saat ini, ada 6 (enam) jenis diantaranya; bibit BB, S1, S2, MCC-02, ICCRI-06 dan ICCRI-08.” Kunci Nur Samsi. (*)