28.8 C
Makassar
November 5, 2026, 8:04 pm
Beranda NEWS LINTAS DAERAH Jalan Rusak Parah di Mamasa, Lansia 78 Tahun Ditandu Sejauh 15 Kilometer...

Jalan Rusak Parah di Mamasa, Lansia 78 Tahun Ditandu Sejauh 15 Kilometer Demi Berobat ke Puskesmas

BERANDANEWS – Mamasa, Ironi sektor pelayanan dasar dan akses infrastruktur kembali mencoreng wilayah pedalaman Sulawesi Barat. Seorang lansia bernama Petrus (78), warga Desa Baruru, Kecamatan Aralle, Kabupaten Mamasa, terpaksa ditandu oleh warga sejauh 15 kilometer demi bisa mendapatkan penanganan medis di puskesmas akibat jalan desa yang rusak parah tak bisa dilalui kendaraan.

Aksi gotong royong warga yang terekam dalam potongan video hingga viral di media sosial tersebut terjadi pada Senin (2/11/2026).

Warga harus berjalan kaki menembus medan berbatu dan becek selama 7 jam untuk membawa Kakek Petrus dari kediamannya menuju perbatasan Desa Ralleanak Utara—titik terdekat yang bisa dijangkau oleh kendaraan roda empat.

Aparat Desa Baruru, Habel, mengonfirmasi bahwa penderitaan Kakek Petrus yang mengalami sakit bengkak pada kaki dan nyeri pinggang berat membuat dirinya tak berdaya untuk berjalan.

“Ditandu sekitar 15 kilometer, memakan waktu perjalanan sekitar 7 jam. Kaki beliau bengkak dan sering sakit pinggang sehingga sulit bergerak. Mau dibawa berobat ke Puskesmas Aralle, jadi terpaksa ditandu dari Baruru sampai perbatasan Desa Ralleanak Utara karena baru di situ mobil bisa masuk,” kata Habel kepada wartawan, Kamis (5/11/2026).

Sudah Jadi ‘Tradisi’ Kelam: Pasien Kerap Meninggal di Jalan
Habel mengungkapkan, derita menandu orang sakit akibat krisis jalan layak bukan lagi pengalaman pertama bagi masyarakat Desa Baruru. Buruknya akses jalan antar-desa ini sudah berlangsung bertahun-tahun tanpa ada penanganan permanen dari pemerintah daerah.

Bahkan, tidak sedikit warga yang bernasib tragis hingga menghembuskan napas terakhir di atas tandu bambu sebelum sempat menyentuh fasilitas kesehatan.

“Kondisi jalan rusak ini sudah sangat lama. Ini bukan pertama kalinya warga menandu pasien. Bahkan, beberapa kali ada warga yang meninggal dunia di tengah jalan saat masih ditandu,” tutur Habel penuh keprihatinan.

Ia membeberkan bahwa sekitar empat bulan lalu jalan sempat mendapat perbaikan darurat dengan cara ditimbun tanah. Namun, solusi sementara itu sirnah seketika saat musim hujan tiba, mengubah jalanan menjadi kubangan lumpur dan lubang dalam.

Sentil Prioritas Anggaran: Minta Fokus ke Pembangunan Jalan Desa
Dalam video yang beredar luas, tampak sejumlah pria dewasa bergantian memikul tandu sederhana yang terbuat dari potongan bambu, kain sarung, serta ditutupi terpal untuk melindungi Kakek Petrus dari sengatan panas dan hujan.

Melalui peristiwa pilu ini, Habel dan warga Desa Baruru melayangkan desakan keras kepada Pemkab Mamasa maupun Pemprov Sulbar untuk segera memprioritaskan perbaikan jalan ketimbang program-program lain yang dinilai belum mendesak bagi kebutuhan hidup mati warga.

“Buruknya akses jalan ini melumpuhkan ekonomi dan mengancam keselamatan warga. Kami sangat berharap pemerintah segera memperbaiki jalan ini. Kalau perlu, anggaran untuk MBG (Makan Bergizi Gratis) dan Kopdes dialihkan dulu untuk bangun jalanan di sini, atau kembalikan dana desa agar kami bisa bangun jalan sendiri,” tegas Habel mengakhiri.(*)