
BERANDANEWS – Makassar, “Ewako! Anak muda Makassar harus berani berubah, berani berdamai, dan berani menjaga kotanya sendiri!”
Seruan itu menjadi pesan kuat Tegar dalam momentum Deklarasi Damai Kelompok Pemuda Sulawesi Selatan di Monumen Mandala, Makassar. Di hadapan Kapolda Sulawesi Selatan, Pangdam XIV/Hasanuddin, dan ribuan peserta deklarasi, Tegar mengajak seluruh kelompok pemuda meninggalkan perselisihan dan kembali merawat persaudaraan.
Tegar bukan sekadar hadir sebagai peserta deklarasi. Ia merupakan satu dari 18 pemuda yang mengikuti pembinaan selama tiga hari di Sekolah Polisi Negara (SPN) Batua melalui program Kapolda Sulawesi Selatan untuk mendukung terciptanya keamanan di Kota Makassar.
Pengalaman tersebut menjadi momentum baginya untuk melihat pentingnya perubahan sikap, kedisiplinan, dan tanggung jawab sebagai anak muda.
Tegar menyampaikan terima kasih kepada Kapolda Sulawesi Selatan atas program pembinaan yang menurutnya memberikan kesempatan kepada pemuda untuk memperbaiki diri.
“Kami berterima kasih kepada Bapak Kapolda. Bagi kami, program ini menjadi jalan untuk kembali menjadi lebih baik. Kami ingin membuktikan bahwa anak muda Makassar bisa menjaga persaudaraan, bisa saling menghargai, dan bisa menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah,” ujar Tegar dalam keterangannya di Makassar, Kamis (29/10/2026).
Menurutnya, perdamaian tidak cukup hanya diucapkan dalam deklarasi. Komitmen tersebut harus dibuktikan ketika para pemuda kembali ke lingkungan masing-masing, bertemu teman-temannya, dan menghadapi persoalan yang berpotensi memicu konflik.
Ia mengingatkan, jangan sampai solidaritas kelompok justru berubah menjadi permusuhan yang merugikan banyak pihak.
“Jangan karena beda kelompok, kita saling bermusuhan. Jangan karena persoalan kecil, masa depan kita dipertaruhkan. Kita semua orang Makassar, kita punya keluarga, punya cita-cita, dan punya tanggung jawab menjaga kota ini,” tegasnya.
Bagi Tegar, menjaga siri’ na pacce tidak harus diwujudkan dengan kekerasan. Kehormatan justru terlihat ketika seseorang mampu mengendalikan diri, menghargai sesama, dan tidak mudah terpancing provokasi.
Ia berharap deklarasi damai di Monumen Mandala menjadi awal gerakan bersama yang benar-benar terasa di tengah masyarakat, terutama di kalangan pemuda yang selama ini kerap terjebak dalam perselisihan antarkelompok.
“Kalau kita mengaku anak Makassar, mari tunjukkan dengan sikap. Jangan cuma berani di jalan, tetapi harus berani juga menahan diri. Jangan cuma kompak saat menghadapi kelompok lain, tetapi harus lebih kompak membangun masa depan,” katanya.

Menutup pernyataannya, Tegar menyampaikan seruan khas anak muda Makassar agar semangat perdamaian tidak berhenti di Monumen Mandala.
“Ewako, anak muda Makassar! Jaga siri’, jaga persaudaraan, jaga Makassarta! Tidak perlu baku hantam untuk membuktikan siapa yang paling berani. Buktikan kalau kita bisa bersatu, bisa saling menghargai, dan bisa bikin bangga orang tua. Cukup mi konflik, waktunya kita berdamai! Karena Makassar ini rumah ta’ semua!” tutup Tegar.(*)




