BERANDANEWS — Maros, Nuansa religius dan kebanggaan nasionalisme menyelimuti Lapangan Pallangtikang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, pada Kamis (22/10/2026).
Sebanyak 1.000 santri yang mewakili 30 pondok pesantren se-Kabupaten Maros tumpah ruah menggelar upacara bendera memperingati Hari Santri Nasional 2026.
Pemandangan apik terlihat usai prosesi upacara. Ribuan santri dengan kompak mengenakan baju koko putih dan sarung berwarna senada menggelar aksi pawai damai mengelilingi kawasan Kompleks Perkantoran Bupati Maros sembari membentangkan spanduk identitas pesantren masing-masing.
Upacara peringatan tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Maros, Muhammad Nur Halik.
Dalam keterangannya, Nur Halik mengingatkan bahwa peringatan Hari Santri setiap tanggal 22 Oktober merupakan momentum sejarah mendalam untuk mengenang Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh Pahlawan Nasional KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945.
“Seruan Resolusi Jihad itulah yang membakar kobaran semangat perang para ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang kelak berpuncak pada peristiwa heroik 10 November 1945 sebagai Hari Pahlawan,” jelas Nur Halik, Kamis (22/10/2026).
Santri Era Modern: Kuasai AI, Pertahankan Kitab Kuning
Menghadapi era kian dinamis, Nur Halik membacakan amanat seragam Menteri Agama RI yang menegaskan bahwa santri masa kini dituntut tidak hanya mahir mengaji kitab kuning dan menghafal Al-Qur’an 30 juz, melainkan juga harus adaptif terhadap pesatnya kemajuan teknologi, termasuk Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.
“Santri hari ini harus bisa menjadi apa saja—mulai dari ulama, ilmuwan, pendidik, pengusaha, hingga pimpinan puncak bangsa menuju visi Indonesia Emas 2045. Kemajuan AI dan teknologi informasi adalah tantangan yang harus dikuasai santri agar cerdas menyaring hoaks di ruang publik,” terangnya.
Ia juga berpesan agar seluruh pengelola pondok pesantren di Maros menjaga iklim belajar yang aman, nyaman, ramah anak, serta bebas dari segala bentuk perundungan (bullying) maupun tindakan diskriminatif.
Semangat membara terpancar dari raut wajah para peserta pawai. Hafiz, salah seorang santri peserta upacara, mengaku amat bangga dan bahagia bisa bersilaturahmi dengan ribuan rekannya dari puluhan pondok pesantren lain di Maros.
“Senang sekali bisa berkumpul dengan teman-teman dari pesantren lain. Lewat peringatan ini, kami merasa sangat bangga menjadi santri,” tutur Hafiz dengan penuh senyum.
Bagi Hafiz dan generasi santri millenial di Maros, menimba ilmu di pesantren adalah kombinasi antara menempa akhlak mulia dan menyiapkan diri menjawab tantangan zaman.
“Kami juga belajar teknologi supaya tidak ketinggalan zaman. Tapi apa pun teknologinya, ilmu agama dan akhlakul karimah tetap menjadi pegangan hidup kami yang paling utama,” jelas Hafiz.(*)





