Gelar Kuliah Umum Bareng Komdigi, Jurusan Ekonomi Islam FEBI UINAM Bedah Keamanan Digital dan Etika Muamalah Siber

Kuliah Umum bertajuk “Keamanan Digital di Era Ekonomi Islam: Melindungi Data, Transaksi, dan Etika Bermuamalah di Ruang Siber” di Aula FEBI UINAM, Samata, Gowa

BERANDANEWS — Gowa, Laju pesat transaksi keuangan digital yang kian masif di Sulawesi Selatan bak pisau bermata dua.

Di satu sisi membuka peluang pertumbuhan ekonomi masyarakat, namun di sisi lain mengintai bahaya penipuan siber, kebocoran data pribadi, judi online, hingga mengikis adab bermuamalah anak muda di ruang digital.

Menjawab tantangan kompleks tersebut, Jurusan Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Alauddin Makassar menggelar Kuliah Umum berskala nasional bertajuk “Keamanan Digital di Era Ekonomi Islam: Melindungi Data, Transaksi, dan Etika Bermuamalah di Ruang Siber” di Aula FEBI UINAM, Samata, Gowa, Rabu (21/10/2026).

Acara edukatif ini dibuka langsung oleh Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof. H. Hamdan Juhannis, M.A., Ph.D., yang menegaskan bahwa pemahaman keamanan digital bukan lagi sekadar pengetahuan tambahan, melainkan kebutuhan mendesak bagi mahasiswa zaman now.

Layar Gadget Sebagai ‘Pasar dan Masjid Baru’ Gen Z

Hadir sebagai keynote speaker, Staf Khusus Menteri Agama RI, Dr. H. Ismail Cawidu, M.Si., memaparkan materi mendalam mengenai etika muamalah dan moderasi beragama di ruang siber. Menurutnya, bagi Generasi Z, layar smartphone telah bertransformasi menjadi panggung aktivitas utama—layaknya pasar dan masjid baru.

Namun, Ismail menyoroti enam krisis etika siber yang marak melanda generasi muda saat ini, yakni:

– Masifnya penyebaran hoaks.
– Degradasi/krisis adab di media sosial.
– Pelanggaran hak privasi orang lain.
– Jebakan ekonomi digital ilegal (pinjol & judol).
– Sikap abai terhadap hak kekayaan intelektual.
– Krisis kejujuran diri.

“Solusinya harus dimulai dari keberanian bermuhasabah (interospeksi diri) hingga pengawasan serta pendampingan kolektif, termasuk dari orang tua,” papar Ismail.

Transaksi QRIS Sulsel Rp7,64 Triliun dan Ancaman Deepfake

Dalam sesi pemaparan berikutnya, Kepala Pusat Pengembangan Literasi Digital BPSDM Komdigi RI, Rizki Ameliah, S.S., M.Si., menyajikan data statistik mengejutkan. Pada Triwulan II 2026, transaksi digital via QRIS di Sulawesi Selatan melonjak drastis hingga Rp7,64 triliun (tumbuh 82,79% YoY) dengan 1,48 juta pengguna aktif.

Rizki menggarisbawahi bahwa lonjakan nilai ekonomi ini berbanding lurus dengan tingginya risiko serangan kejahatan digital, seperti phishing, social engineering, investasi bodong, pinjaman online ilegal, judi online, hingga teknologi maniputatif deepfake.

“Mahasiswa Ekonomi Islam harus sadar betul pentingnya perlindungan data pribadi seperti NIK, foto, nama ibu kandung, hingga riwayat transaksi. Kebiasaan umbar lokasi dan aktivitas pribadi di medsos juga sangat riskan disalahgunakan. Keamanan digital adalah bagian tak terpisahkan dari etika bermuamalah syariah,” tegas Rizki Ameliah.

Dorong Mahasiswa Jadi Duta Siber dan Gagaskan Klinik Literasi Digital

Sementara itu, akademisi dan Dosen Komunikasi UINAM, Dr. Ibnu Hajar, M.I.Kom., mendesak mahasiswa untuk mengambil peran kepemimpinan sebagai Watchdog (benteng pengawas) verifikasi fakta (fact-checking) dan Duta Siber di era Kecerdasan Buatan (AI). Diskusi seru ini dipandu oleh Nildawati, S.K.M., M.Kes.Epid.

“AI harus diposisikan sebagai mitra bantu untuk memperkaya penelitian tanpa membunuh nalar kritis. Jangan sampai bebas berpendapat di medsos malah terperosok ke jurang cyberbullying atau fitnah,” imbau Ibnu Hajar.

Ibnu Hajar secara konkret merekomendasikan langkah nyata bagi kampus UINAM, yakni dengan membentuk Klinik Literasi Digital, menyelenggarakan pelatihan fact-checking secara berkala, serta menggelar kampanye konten positif berbasis AI yang berdampak luas bagi masyarakat.(*)