BERANDANEWS — Jakarta, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan kepastian mengenai arah kebijakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional di tengah gejolak lonjakan harga minyak mentah dunia.
Pemerintah memastikan harga BBM bersubsidi jenis Pertalite tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir tahun 2026.
Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen mempertahankan harga BBM bersubsidi agar daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah tekanan inflasi energi global.
“Untuk harga BBM Pertalite, sebagaimana disampaikan Pak Menteri, sampai dengan akhir tahun kita pertahankan. Tidak ada kenaikan untuk Pertalite yang bersubsidi,” tegas Yuliot Tanjung saat ditemui di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta, dikutip Rabu (30/9/2026).
Namun, kondisi berbeda berlaku bagi kelompok BBM non-subsidi seperti Pertamax series dan Dex series. Yuliot menjelaskan bahwa harga BBM non-subsidi sifatnya merujuk pada fluktuasi harga pasar minyak dunia dan akan dievaluasi secara berkala oleh badan usaha setiap tanggal 1 di awal bulan.
Dengan tren penguatan harga minyak mentah dunia saat ini, BBM non-subsidi berpotensi mengalami penyesuaian harga mulai Kamis, 1 Oktober 2026.
“Yang non-subsidi ini kan menyesuaikan dengan harga pasar. Kita melihat rata-rata penyesuaian harganya dalam satu bulan. Memang ada penyesuaian (untuk Oktober 2026),” tambah Yuliot tanpa membeberkan besaran pasti angka kenaikannya.
Berdasarkan data pasar komoditas Refinitiv per Selasa (29/9/2026), harga minyak mentah dunia melonjak dalam dua hari beruntun dipicu kekhawatiran gangguan pasokan akibat eskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran di sekitar Selat Hormuz.
Harga minyak jenis Brent tercatat menguat 1,5 persen hingga menembus level US$ 106,9 per barel, sementara minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,4 persen ke posisi US$ 93,91 per barel.
Kendati ekspor minyak dari Timur Tengah sempat meningkat mencapai 12,8 juta barel per hari pada September 2026, dinamika konflik global tetap membayangi stabilitas pasokan energi dunia dan memicu penyesuaian harga pada BBM non-subsidi di dalam negeri.(*)





