Pilah dari Rumah Berhadiah Cuan! 24 Bank Sampah di Kecamatan Wajo Jadi Garda Depan Kurangi Sampah Kota Makassar

BERANDANEWS — Makassar, Pemerintah Kota Makassar terus memperkuat strategi penanganan sampah dari sumbernya guna mengurangi beban Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa yang tengah bertransisi menuju sistem sanitary landfill.

Di Kecamatan Wajo, keberadaan 24 Bank Sampah Unit (BSU) di tingkat kelurahan kini menjadi ujung tombak pemilahan sampah sekaligus penopang ekonomi warga.

Pelaksana Tugas (Plt) Camat Wajo, Ivan Kalalembang, mengungkapkan bahwa 24 BSU yang tersebar di Kelurahan Malimongan Tua, Malimongan, Ende, Pattunuang, Melayu Baru, Melayu, Butung, hingga Mampu tersebut terbukti efektif menekan residu sampah ke TPA.

“Melalui BSU, warga diajak memilah sampah anorganik dari rumah. Sampah tersebut ditimbang dan dicatat menjadi tabungan bernilai ekonomis. Jadi selain lingkungan bersih, ada nilai tambah ekonomi bagi masyarakat,” ujar Ivan Kalalembang, Ahad (27/9/2026).

Sejalan dengan penguatan BSU, Pemkot Makassar juga memperluas program iuran sampah gratis bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Kategori penerima manfaat yang sebelumnya hanya menyasar pelanggan listrik 450 VA dan 900 VA, kini diperluas mencakup rumah tangga berdaya 1.300 VA.

Perluasan tersebut menambah sasaran sebanyak 653 rumah, sehingga total potensi penerima iuran sampah gratis di Kecamatan Wajo kini melonjak menjadi 2.432 rumah dari sebelumnya 1.124 rumah di tahun 2025/2026.

Tak hanya di permukiman warga, ketegasan pengawasan juga diberlakukan di kawasan industri dan transportasi Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar. Menindaklanjuti Perwali Nomor 13 Tahun 2025, pihak kecamatan menghentikan sementara pembuangan sampah dari kapal-kapal Pelni ke TPA Tamangapa karena tidak melalui proses pemilahan.

Langkah tegas tersebut membuahkan hasil signifikan. Dengan rata-rata volume sampah kapal mencapai 24 ton per hari, penghentian tersebut berhasil memangkas beban buangan ke TPA Tamangapa hingga 440 ton selama kurun waktu lebih dari satu bulan.

“Saat ini sampah kapal Pelni dikelola secara mandiri di kawasan pelabuhan. Sementara untuk sampah dari Pelindo, pengangkutan tetap kami layani setelah mereka berkomitmen menjalankan prosedur pemilahan sampah secara ketat,” tegas Ivan.(*)