Jombang Panas, Suhu Politik Muktamar Lebih Panas, Menjelang Pengusulan Calon Ketua Umum PBNU

Ilustrasi

KOLOM – “Suhu udara Jombang memang panas. Tapi menjelang penentuan arah Muktamar NU ke-35, yang jauh lebih panas adalah suhu para muktamirin.”

Kalimat itu terasa semakin nyata ketika Muktamar NU memasuki tahapan yang sangat menentukan. Setelah proses penetapan Rais Aam melalui musyawarah sembilan anggota AHWA, perhatian para muktamirin kini bergerak menuju agenda berikutnya: pengusulan nama-nama calon Ketua Umum PBNU.

Menjelang masuknya usulan tiga atau lima nama calon Ketua Umum, suhu politik di sekitar arena Muktamar tentu semakin meningkat.

Percakapan tidak lagi hanya berlangsung di ruang sidang. Diskusi berkembang di pemondokan, kendaraan, warung kopi, halaman pesantren, hingga pertemuan-pertemuan kecil antardelegasi.

Pertanyaannya pun hampir sama:
Siapa mengusulkan siapa? Siapa akan bertahan? Siapa bergeser? Dan ke mana suara akhirnya berlabuh?

Dari AHWA Menuju Pertarungan Ketua Umum

Terpilihnya Rais Aam bersama proses sembilan AHWA menjadi satu babak penting. Tetapi setelah itu, muktamirin memasuki arena yang berbeda: pemilihan Ketua Umum PBNU.
Di sinilah peta politik bisa bergerak sangat cepat.

Dukungan yang terlihat sebelum Muktamar belum tentu sama dengan pilihan akhir. Pertemuan dengan seorang kandidat juga belum otomatis berarti suara sudah terkunci.

Karena dalam politik organisasi:
mendukung adalah bahasa politik, sedangkan memilih adalah keputusan politik.

Maka jangan terlalu cepat menghitung kemenangan berdasarkan foto pertemuan, jumlah orang yang hadir, atau ramainya deklarasi.

Yang menentukan tetap keputusan peserta ketika mekanisme pemilihan berlangsung.
Semakin Mendekati Pengusulan, Semakin Tinggi Suhunya

Tahapan pengusulan tiga atau lima nama calon Ketua Umum menjadi sangat penting karena dari sanalah akan terlihat siapa figur yang benar-benar mempunyai basis dukungan di kalangan peserta.

Pada fase inilah komunikasi politik akan semakin intensif.

Telepon akan semakin ramai. Pertemuan akan semakin sering. Konsolidasi daerah semakin kuat. Bahkan mungkin ada peserta yang hingga beberapa jam sebelumnya masih belum menentukan pilihan.

Itu bagian dari dinamika Muktamar.
Yang perlu dijaga adalah jangan sampai dinamika tersebut keluar dari nilai-nilai yang selama ini menjadi kekuatan NU.

Lobi boleh. Konsolidasi boleh. Berbeda pilihan juga boleh. Tetapi integritas jangan ditukar dengan kepentingan sesaat.

Suara Muktamirin Bukan Barang Dagangan
Setiap peserta datang ke Muktamar membawa mandat organisasi.

Di belakang satu suara terdapat PCNU, PWNU, para kiai, pesantren, pengurus MWCNU, ranting, dan warga Nahdliyin di daerah.
Karena itu suara tersebut tidak boleh dipandang sebagai milik pribadi.
Suara Muktamar adalah amanah organisasi, bukan barang dagangan.

Apalagi menjelang tahap penentuan kandidat Ketua Umum, godaan untuk melihat suara semata-mata sebagai angka politik bisa semakin besar.

Justru pada titik itulah integritas seorang muktamirin diuji.

Kepala Harus Tetap Dingin

Semakin panas persaingan, semakin dingin seharusnya kepala para muktamirin.
Hari ini seseorang mungkin mendukung kandidat A, sementara sahabatnya memilih kandidat B. Besok mereka tetap menjadi saudara dalam rumah besar Nahdlatul Ulama.
Jangan sampai jabatan lima tahun menghancurkan persahabatan yang sudah dibangun puluhan tahun.
Kita boleh berbeda pilihan, tetapi jangan berbeda ukhuwah.

Sebab sesudah Ketua Umum terpilih, pekerjaan NU jauh lebih besar daripada sekadar memenangkan kandidat.

Setelah Menang, Apa yang Akan Dikerjakan?
Pertanyaan ini justru harus mulai disampaikan kepada setiap calon Ketua Umum:

Jika terpilih, apa yang akan Anda lakukan terhadap PCNU, MWCNU dan ranting-ranting NU selama lima tahun ke depan?

Jangan sampai Muktamar hanya ramai membahas siapa menang dan siapa kalah, sementara persoalan mendasar organisasi terlupakan.

Masih banyak struktur NU di daerah yang berjalan dengan kemampuan seadanya. Pengurus masih urunan. Program organisasi masih sangat bergantung pada bantuan. Kemandirian ekonomi belum dibangun secara sistematis.

Maka Ketua Umum PBNU yang terpilih nantinya tidak cukup hanya kuat dalam politik organisasi.

Ia harus mempunyai gagasan bagaimana memperkuat infrastruktur organisasi dan membangun kemandirian ekonomi NU sampai ke tingkat cabang, MWC dan ranting.
Muktamar jangan hanya menghasilkan nama.
Muktamar harus menghasilkan arah.

Biarlah Jombang Panas

Menjelang masuknya usulan tiga atau lima nama calon Ketua Umum PBNU, saya kira suhu politik akan semakin panas.
Itu wajar.

Tetapi mari kita ingat, kandidat akan datang dan pergi. Jabatan akan berganti. Ketua Umum akan berganti. Rais Aam pun pada waktunya akan berganti.

NU tetap harus berdiri lebih besar daripada kepentingan siapa pun.

Karena itu, ketika nanti palu sidang diketuk, siapa pun yang menang harus dirangkul. Yang belum mendapatkan amanah jangan disingkirkan.

Biarlah udara Jombang panas.
Biarlah persaingan Muktamar juga panas.
Tetapi kepala para muktamirin harus tetap dingin, hati tetap bersih, dan persaudaraan jangan sampai ikut terbakar.

Sebab pada akhirnya, yang paling penting bukan siapa yang memenangkan Muktamar, tetapi bagaimana Nahdlatul Ulama keluar dari Muktamar dalam keadaan lebih kuat dan lebih bersatu.

Penulis
Makmur Idrus