Bos Danantara Frustrasi Bongkar Borok BUMN Karya: Utang Rp24 T, Aset Sisa Rp7 T!

Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria

BERANDANEWS — Jakarta, Kondisi keuangan BUMN di sektor konstruksi dan properti berada di titik yang amat krusial. Tak hanya induk perusahaan, anak-anak usaha BUMN karya kini turut terjerat krisis likuiditas parah hingga berujung mangkraknya sejumlah proyek hunian masyarakat.

Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, secara terbuka meluapkan kekecewaannya terkait kondisi perusahaan pelat merah yang menurutnya “tidak baik-baik saja”.

“Energi kita terbatas. Selesai perbaiki satu, masuk masalah satu lagi. Baru masuk ke properti, saya juga frustrasi. Aset tinggal Rp7 triliun, sementara utangnya Rp24 triliun. Mau diapakan?” beber Dony blak-blakan saat ditemui di Batang, Jawa Tengah, dikutip Senin (3/8/2026).

Rugi Berjamaah Rp25,1 Triliun dan Impairment Aset Raksasa

Berdasarkan data kinerja keuangan, empat emiten raksasa BUMN konstruksi—PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), PT PP (Persero) Tbk (PTPP), PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI), dan PT Waskita Karya Tbk (WSKT)—kompak membukukan rugi bersih sepanjang tahun lalu.

Jika diakumulasikan, total kerugian keempat BUMN tersebut menembus angka Rp25,1 triliun.

Salah satu contoh penyesuaian aset (impairment) dalam jumlah fantastis dialami oleh PT PP Properti Tbk.

“PP Properti itu impairment-nya hampir Rp13 triliun. Itu tidak sedikit. Tapi saya orangnya apa adanya, saya ingin masyarakat tahu bahwa kita sedang memperbaiki kondisi yang memang sedang tidak baik-baik saja,” tegas Dony.

Dampak Nyata ke Konsumen: Apartemen LRT City Mangkrak

Pahitnya krisis keuangan BUMN karya ini dirasakan langsung oleh masyarakat. Salah satunya melanda anak usaha Adhi Karya, PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP), yang gagal menyelesaikan pembangunan serta serah terima unit apartemen LRT City.

Arus kas operasional (cash flow) ADCP tercatat negatif, membuat perusahaan kesulitan pendanaan dan tak sanggup memenuhi pengembalian dana (refund) bagi ribuan konsumen yang terdampak.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Portofolio Bisnis dan Risiko PT Adhi Karya (Persero) Tbk, Rozi Sparta, melayangkan permohonan maaf terbuka kepada publik.

“ADCP menyampaikan permohonan maaf kepada para konsumen atas keterlambatan penyelesaian kewajiban serah terima unit,” kata Rozi melalui Keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia (BEI).

Penyebab Utama Utama Badai Likuiditas ADCP

Rozi membeberkan dua faktor utama yang membuat proyek TOD (Transit Oriented Development) LRT City tersendat:

Beban Infrastruktur Tinggi: Skema hunian terintegrasi transportasi publik mengharuskan korporasi menyediakan lahan dan membangun infrastruktur pendukung berbiaya besar.

Pasar Properti Belum Pulih: Lesunya industri properti nasional menekan angka penjualan, sehingga penerimaan kas terganggu signifikan.

Meski diterjang badai keuangan, manajemen ADHI dan ADCP mengklaim terus berupaya mencari skema pendanaan alternatif agar pembangunan fisik proyek LRT City dapat dilanjutkan secara bertahap.(*)