Ilusi Pengetahuan di Era AI: Mudahnya Akses Agama, Minimnya Kesungguhan Jiwa

KOLOM – Peradaban manusia abad ke-21 sedang mengalami lompatan teknologi yang luar biasa. Digitalisasi tidak hanya mengubah tata kelola birokrasi dan pola komunikasi, tetapi juga meruntuhkan batas-batas ruang kelas konvensional dalam proses transfer ilmu keagamaan.

Arsitektur internet, algoritma mesin pencari, dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mendemokratisasi informasi secara radikal. Khazanah keislaman yang dahulu tersimpan dalam kitab-kitab tebal berbahasa Arab kini dapat diakses hanya melalui beberapa ketukan jari di layar ponsel.

Namun, di balik kemudahan itu, muncul realitas sosial dan spiritual yang kontradiktif. Ketika akses terhadap ilmu agama semakin instan dan murah, justru gairah belajar masyarakat cenderung menurun. Majelis ilmu yang mendalam sering sepi peminat, sementara budaya serba cepat melahirkan kecenderungan berpikir dangkal dan malas berproses.

Pertanyaannya, mengapa kemudahan teknologi tidak selalu melahirkan kedalaman ilmu dan keluhuran akhlak?

Fenomena ini dapat dijelaskan melalui perspektif psikologi digital. Salah satu penyebab utamanya adalah munculnya The Illusion of Knowledge atau ilusi pengetahuan. Ketika seseorang mengetik pertanyaan agama di Google atau ChatGPT lalu memperoleh jawaban dalam hitungan detik, muncul bias kognitif yang membuatnya merasa “sudah tahu” dan “sudah paham”. Padahal, akses terhadap informasi tidak identik dengan penguasaan ilmu.

Aktivitas menyimpan video ceramah, mengunduh kitab digital, atau membagikan kutipan hadis di media sosial sering kali hanya menghasilkan kepuasan emosional semu. Kita merasa telah menuntut ilmu, padahal yang terjadi baru sebatas menimbun data.

Dalam disiplin Teknologi Informasi, data yang tersimpan di perangkat tidak otomatis diproses menjadi pengetahuan yang bermakna. Begitu pula manusia; informasi yang menumpuk di gawai tidak akan berubah menjadi pemahaman mendalam tanpa proses internalisasi, kontemplasi, dan pembiasaan yang konsisten.

Kondisi ini diperparah oleh ekosistem attention economy atau ekonomi perhatian yang menguasai platform digital modern. Di ruang siber, konten dakwah harus bersaing dengan hiburan singkat, gosip selebritas, tren belanja, dan berbagai bentuk distraksi visual lain yang dirancang untuk memikat perhatian pengguna.

Algoritma media sosial bekerja dengan sistem penghargaan instan berbasis dopamin, membuat manusia semakin sulit bertahan dalam aktivitas yang memerlukan fokus mendalam.

Padahal, menuntut ilmu agama merupakan proses kognitif dan spiritual yang membutuhkan ketenangan, kesabaran, dan konsentrasi tinggi. Ketika dihadapkan pada pilihan antara mendengarkan kajian fikih selama satu jam atau menikmati video hiburan berdurasi lima belas detik, banyak orang akhirnya kalah oleh tarikan algoritma. Dalam konteks ini, kemalasan beragama sesungguhnya bukan semata-mata persoalan kurangnya akses ilmu, melainkan kegagalan manusia mengelola perhatian di tengah badai distraksi digital.

Selain itu, kemudahan akses juga perlahan mengikis nilai perjuangan (the value of effort). Sesuatu yang diperoleh tanpa pengorbanan cenderung dianggap murah dan kurang bermakna. Belajar agama sambil rebahan, diselingi membuka media sosial, atau ditinggal tidur ketika materi mulai berat, membuat nuansa kesakralan ilmu semakin memudar.

Kita kehilangan ruh talaqqi—kesungguhan untuk menghadiri majelis ilmu, duduk dengan adab, menatap guru secara langsung, serta menyerap keteladanan akhlaknya.

Teknologi memang berhasil memangkas jarak fisik, tetapi dalam tradisi keilmuan Islam, keberkahan sering kali lahir dari panjangnya proses, beratnya perjuangan, dan kesungguhan seorang penuntut ilmu. Generasi terdahulu rela menempuh perjalanan jauh demi mendapatkan satu hadis atau sebaris ayat, sementara generasi hari ini sering menunda belajar meski seluruh fasilitas ilmu berada dalam genggaman tangan.

Tentu, teknologi bukanlah musuh. Aplikasi Al-Qur’an digital, podcast keislaman, dan berbagai platform edukasi merupakan anugerah besar yang patut disyukuri. Namun, teknologi pada hakikatnya hanyalah alat penguat (amplifier). Jika seseorang memiliki semangat mencari kebenaran, teknologi akan memperluas cakrawala ilmunya. Sebaliknya, jika yang dipelihara adalah mentalitas instan dan kemalasan, teknologi hanya akan menjadi mesin distraksi yang melalaikan.

Karena itu, penyakit kemalasan beragama di era digital tidak dapat disembuhkan hanya melalui pembaruan perangkat lunak (software update), melainkan melalui pembaruan niat dan penataan kembali orientasi jiwa. Sudah saatnya kita berhenti menjadikan kemudahan teknologi sebagai alasan untuk menunda belajar. Menjadi ironi yang memprihatinkan apabila akses ilmu semakin dekat, tetapi semangat menuntut ilmu justru semakin jauh dari hati manusia.

Penulis

Muhammad Hidayat Lammi
Prodi Ilmu Administrasi Negara, Universitas Negeri Makassar