Tradisi Maleppe’, Makna Silaturrahim Usai Lebaran

Dokumentasi Pelaksanaan Salat Id di Lapangan Karebosi Makassar beberapa tahun lalu (Dok)

Maleppe’ secara terminologi mengandung artian “melepas”. Apa yang dilepas? Dalam konteks ini, tentu saja dosa-dosa dalam diri sendiri serta melepaskan (atau lebih tepatnya mengikhlaskan) dosa orang lain melalui cara memberi maaf. Prosesi memaafkan setelah salat Id adalah bagian utama dari Maleppe’.

Selain itu, sebagian orang Bugis menginterpretasi kata “melepas” dengan cara lain. Menghanyutkan seluruh dosa, sial, atau sifat-sifat buruk dilaklukkan dengan melarung pakaian lama ke sungai atau ke laut sebelum diganti dengan yang baru. Tradisi ini memiliki pertalian erat dengan budaya pra-Islam.

Tradisi Maleppe’ pun berkaitan dengan Lebaran, baik itu Idulfitri atau Iduladha. Belakangan, Maleppe’ jadi cara sebagain kalangan menyebut Lebaran dalam istilah tradisional.

Masyarakat Sulawesi Selatan akan melakukan tradisi ini selepas salat Ied. Nantinya mereka saling mengunjungi tetangga, kerabat hingga handai taulan satu sama lain. Kegiatan tersebut biasanya disebut dengan Assiara, artinya silaturahmi.

Ketika sedang bersilaturahmi ke rumah-rumah tetangga atau kerabat, pemilik rumah akan menyuguhkan hidangan khas lebaran kepada tamunya. Karena sebagian besar masyarakat setempat masih kental dengan kepercayaan lama, jadi sebelum disajikan untuk tamu, makanan tersebut terlebih dahulu dibacakan doa oleh Puang Anre Guru atau Daeng Imam. Kedua tokoh ini setara dengan pemuka agama setempat.

Itulah makna dari tradisi Maleppe’ yang diadakan di setiap lebaran. Termasuk ketika lebaran. Tradisi Lebaran Sulawesi Selatan ini menjadi suatu akulturasi budaya dengan ajaran agama.(*)