Tradisi Khitanan Makkatte di kalangan Bugis Makassar

Khitanan dalam Islam merupakan hal yang diwajibkan, terutama bagi masyarakat Bugis Makassar tradisi khitan bagi anak perempuan disebut Makkatte’ sementara untuk anak laki-laki disebut Massunna’. Tradisi Makkatte’ erat kaitannya dengan ritual keagaamaan karena bagi masyarakat Bugis, Makkatte’ juga dikenal sebagi ritual pengislaman bagi anak perempuan. Anak yang dikatte’ biasanya berumur 4 – 7 tahun. Proses pelaksanaan tradisi ini dilakukan oleh seorang perempuan yang ahli dan dipercayai oleh keluarga, disebut Sanro.

Sebelum tradisi dimulai disediakan beras yang diletakkan dalam sebuah nampan lebar dengan kelapa yang telah dibuka sabuknya serta gula merah yang telah dipotong-potong dan diletakkan di atas piring kecil serta ayam kampung hidup. Setelah itu anak perempuan dituntun untuk berwudhu dan “dipabbajui” atau dipakaikan baju bodo dengan “ lipa sabbe’” (sarung sutra khas Bugis). Selanjutnya si anak duduk di atas bantal yang telah dilapisi dengan sarung sebanyak 7 buah, daun pisang yang masih muda dan sajadah.

Biasanya sang anak yang akan dikhitan didampingi oleh ayah kandung yang duduk di belakang putrinya, si anak dituntun untuk membaca dua kalimat syahadat. Setelah anak dianggap sempurna membaca syahadat, Sanro kemudian melakukan prosesi khitan dengan menggunakan pisau (konon ada juga yang menggunakan silet /gunting). Setelah prosesi selesai si anak disuap gula merah oleh orangtuanya. Maknanya supaya kehidupannya di masa yang akan datang senantiasa manis seperti gula merah.

Setelah itu si anak harus memakai baju bodo sebanyak 7 lapis. Pemakaian baju bodo 7 lapis ini dimaksudkan agar kehidupannya di masa depan sukses dan berhasil. Kemudian anak dibopong oleh ayahnya menuju tempat yang tinggi. maknanya agar setelah dewasa nanti anak perempuan ini memiliki pengetahuan yang tinggi, berwawasan luas , berbudi pekerti luhur dan menjalankan ibadah dengan baik.

Biasanya setelah acara Makatte selesai banyak yang memberi amplop berisi uang untuk si anak (bahkan ada yang mendudukkan anak di pelaminan seperti pengantin, dan tamu yang datang meletakkan amplop di tempat khusus).

Setelah itu dilakukan barzanji sebagai penutup. Barzanji berupa pembacaan ayat suci Al qur’an secara bergiliran dan shalawat serta pujian bagi Nabi Muhammad SAW. Diakhiri dengan makan bersama makanan yang telah disediakan. Selesailah prosesi Makkatte’, tradisi khitan dan ritual pengislaman bagi anak perempuan Bugis.(*)