BERANDANEWS – Pinrang, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Padaidi di Kabupaten Pinrang membawa angin segar bagi pelestarian kuliner tradisional.
Kue Karasa, jajanan khas Bumi Lasinrang, kini masuk dalam daftar menu tambahan program nasional tersebut.
Langkah ini dipelopori oleh seorang Pengusaha Muda(Irfank Bento) asal Pinrang yang melihat peluang untuk mengolaborasikan pemenuhan gizi anak sekolah dengan pengenalan budaya lokal.
Kehadiran Kue Karasa di meja makan siswa diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan kalori, tetapi juga membangun kebanggaan terhadap kekayaan daerah.
Dukungan Penuh dari Pengelola MBG
Pihak penyelenggara program melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menyambut baik inisiatif pelibatan UMKM lokal dalam rantai pasok makanan sekolah.
Menurut Muhammad Irwan, Kepala SPPG Padaidi Kabupaten Pinrang, integrasi pangan lokal merupakan salah satu strategi untuk memastikan program ini berdampak pada ekonomi daerah.
“Kami sangat mengapresiasi inovasi dari pelaku usaha muda di Pinrang. Masuknya Kue Karasa bukan sekadar menambah variasi menu, tapi juga wujud nyata pemberdayaan UMKM lokal dalam menyukseskan Program Makan Bergizi Gratis. Kami memastikan setiap produk yang masuk, termasuk Kue Karasa, telah memenuhi standar keamanan pangan dan gizi yang ditetapkan,” ujar Kepala SPPG Padaidi Pinrang, Jumat (06/3/2026)
Sementara Owner UMKM Karasa Pinrang Irfan Bento mengungkapkan bahwa keterlibatannya adalah bentuk tanggung jawab moral sebagai generasi muda. Ia menekankan bahwa anak-anak sekolah perlu didekatkan kembali dengan jajanan sehat tanpa pengawet yang menjadi warisan leluhur.
“Jika bukan kita yang memulai, siapa lagi? Sentuhan anak muda sangat diperlukan untuk memastikan kuliner Pinrang tidak hanya jadi kenangan, tapi tetap eksis di setiap generasi,” jelas Irfank Bento.
Hadirnya pangan tradisional ini menjadi sarana edukasi kultural agar siswa lebih menghargai identitas daerahnya di tengah gempuran makanan instan modern.
Dengan kolaborasi antara kreativitas anak muda dan dukungan program nasional, Kabupaten Pinrang kini bisa menjadi contoh bagaimana kebijakan pusat dapat dioptimalkan untuk menjaga keberlangsungan warisan budaya sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.(*)





