Presiden Koalisi LSM dan Pers Sulsel Angkat Bicara Adanya Dugaan Oknum Anggota Beking Tambang Ilegal

BERANDANEWS – Luwu, Menanggapi viralnya berita soal aktifitas dugaan tambang galian C ilegal di Larompong Selatan, Kabupaten Luwu, yang diduga dibekingi oleh oknum aparat kepolisian Polda Sulsel menjadi sorotan.

Presiden Koalisi LSM dan Pers yang dikenal influencer pemerhati lingkungan angkat bicara soal issue itu. Mulyadi, SH sangat menyayangkan adanya dugaan bekingan oknum anggota Polda Sulsel dalam aktivitas tambang galian C yang diduga ilegal di kelurahan Bonepute dan Salu Sana mulai tercium karena terkesan kebal hukum.

“Kami berharap Petinggi Institusi Kepolisian Polda Sulsel dan Mapolres Luwu turun segera memantau dimana lokasi tambang tersebut tepatnya di Sungai Salu Sana yang berbatasan dengan Desa Gandang Batu, Kecamatan Larompong Selatan (Larsel),” tegas Mulyadi. Belopa, Rabu, (14/01/2026).

Mulyadi, berharap agar Kapolda Sulsel melalui Polres Luwu agar menindak secara tegas terhadap para pelaku. Dimana para pelaku ini telah diduga mencoreng nama baik Institusi Polri.

“Tidak ada celah bagi aparat kepolisian Polda maupun Polres Luwu, tangkap dan proses secara proporsional. Kemudian, persoalan ini tidak ditindaklanjuti oleh aparat kepolisian berarti apa yang telah diungkapkan oleh yang bersangkutan yakni SRM benar adanya, bahwa mereka itu di bekengi oleh oknum tertentu,” tegas MulyadiMulyadi

Selain itu, DIREKTORAT PIMPINAN PUSAT LEMBAGA PENGAWASAN PUBLIK SEMANGAT GARUDA BERDAULAT REPUBLIK INDONESIA ( DIKPUS.LPP.SEGEL.RI ) melalui Sekjend Syamsuryadi, S.H saat dikonfirmasi menegaskan Tambang galian C ilegal melanggar Pasal 158 UU No. 3 Tahun 2020 (UU Minerba) tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, dipidana penjara maksimal 5 tahun dan denda Rp100 miliar, serta melanggar UU Lingkungan Hidup karena merusak alam, merugikan negara, dan berpotensi melanggar aturan transportasi jika truk tambang melintas di jalan umum tanpa izin. Pelanggaran ini mencakup operasi tanpa Izin Usaha Pertambangan (IUP) atau izin lainnya, tidak mematuhi kaidah lingkungan, dan bisa juga menjerat penadah materialnya.

“Pelanggaran Hukum Utama Pasal 158 UU No. 3 Tahun 2020 (Perubahan UU Minerba): Menjerat setiap orang yang melakukan usaha penambangan tanpa IUP, IPR, atau IUPK dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp100 miliar. Pasal 161 UU No. 3 Tahun 2020: Memperluas sanksi kepada pihak yang mengangkut, menjual, atau memanfaatkan hasil tambang ilegal. Pasal 480 KUHP: Menjerat penadah atau pihak yang membeli/menyewa barang hasil kejahatan (material ilegal) dengan pidana kurungan 4 tahun. Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UU PPLH): Pelanggaran terkait pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. Peraturan Menteri Perhubungan & UU Lalu Lintas: Pelanggaran penggunaan jalan umum oleh truk tambang berat tanpa izin, membahayakan publik dan merusak infrastruktur,” kata Syamsuryadi.

Mulyadi menambahkan akan segera menindaklanjuti ke Mabes Polri hingga Kompolnas adanya dugaan bekingan oknum anggota Polda sulsel temuan teman-teman di Kabupaten Luwu untuk di atensi secepatnya di Polda sulsel.

“Dalam waktu dekat lembaga kami melakukan penyuratan klarifikasi ke Mabes Polri, Kompolnas, Polda Sulsel hingga Mapolres Luwu. Kami berharap dan mendesak Institusi Kepolisian Republik Indonesia agar segera menutup dan menangkap pelaku tambang tersebut dan segera memproses adanya oknum anggota yang melakukan dugaan bekingan tambang ilegal,” tutupnya. (*)