Pesan dalam Bunyi-bunyian Mangkasara’

209
Salah satu pementasan Bunyi bunyian Mangkasara

Dalam melestarikan budaya yang kian tergerus oleh arus modernitas. Pelestarian budaya menjadi perhatian khusus sebagai bentuk identitas sebuah daerah.

Pelestarian tersebut layak menjadi perhatian khusus sebab seni tradisi bukan hanya merupakan pembentuk identitas kebangsaan yang mampu menginterupsi penyeragaman berpikir yang dilakukan oleh Barat, kebangsaan yang mampu menginterupsi penyeragaman berpikir yang dilakukan oleh Barat, sebagaimana dikemukakan Edward W Said, tetapi juga merupakan kekayaan intelektual turun-temurun yang tak ternilai harganya karena di dalam seni tradisi tersimpan nilai moral, spiritual, dan transendental yang hanya dapat diartikulasi oleh masyarakat lokal. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah berkolaborasi bersama penggiat seni karawitan adalah dengan memanggul seni lokal tersebut ke atas panggung.

Dalam prakteknya suguhan seni tradisi selama ini, terutama di bidang seni musik sayangnya, tak sanggup merepresentasikan pola pikir masyarakat lokal dalam mengartikulasi semesta bunyi yang dialami mereka. Bukannya menghadirkan keteduhan, komposisinya hanya mereduksi yang sudah ada. Dengan kata lain, hasil revitalisasi musik daerah pada akhirnya terlibat dalam mengusung genre-genre pop yang sudah mapan seperti jazz, R&B, pop progressive, dan lain-lain. Dengan demikian kegelisahan
pun mengemuka melalui sebuah pertanyaan untuk apa menghidupkan kembali musik tradisi jika komposisi tersebut hanya menjadi bagian dari list salah satu aliran musik yang sudah ada.

Pertanyaan ini tentunya menuntut jawaban dan analisis yang sifatnya fungsional, sebab tak dapat dipungkiri peran musik dalam perkembangan kebudayaan baik itu yang nomadik, primitif, tradisional, bahkan yang modern begitu besar karena tidak hanya meliputi unsur-unsur yang sifatnya hiburan, tetapi mengandung nilai moral, spiritual, dan kontempelasi seperti yang dijelaskan sebelumnya. Bahkan seorang Jalaluddin Rumi mendaku bahwa nabi-nabi di setiap peradaban menemukan wahyu melalui bunyi yang dalam hal ini adalah musik.

Oleh karena itu, jika nilai dalam musik menjadi unsur yang penting maka semestinya musik lokal tak perlu mengenakan jubah modern agar dapat hidup kembali, yang pada akhirnya, menjadi celah untuk direndahkan oleh masyarakat Barat sebagaimana tradisi pop, sama malangnya dengan seorang gadis lokal yang terpaksa menggunakan krim pemutih agar dapat menarik perhatian laki-laki perkotaan, padahal kesantunan, kesucian, dan budi pekerti adalah senjata yang ampuh menaklukkan para lelaki kota.

Pada dasarnya Pemikir-pemikir Boudillardian sudah lama memperhatikan gejala-gejala peniruan yang sifatnya sporadis ini. Prinsip dasar tradisi pop, menurut mereka, adalah menciptakan atau memproduksi sesuatu dari banyak unsur dan simbol kebudayaan tanpa peduli apakah simbol-simbol ini bermakna sesuatu atau tidak, ditabukan atau tidak, bernilai atau tidak. Produksi massal tentunya berorientasi pada ekonomi sehingga ketertarikan yang sifatnya kontempelatif, mengakar dan membutuhkan proses
panjang disingkirkan lalu diganti dengan ekstase yang bersifat temporer. Di ranah ini apabila musikmusik tradisi ikut berkolaborasi dengan musik-musik pop lainnya, maka di saat itu pula kearifan ini tak lama lagi akan ditinggalkan, sebagaimana musik-musik pop lainnya.

Saat ini semangat tradisi lokal terutama di bidang seni bunyi kerap dimanfaatkan industri massal dengan memaksa bunyi lokal yang sarat dengan alam dan spiritual ini menciut untuk memasuki kanal-kanal musik diatonik yang sesungguhnya tak memiliki asal-usul. Bunyi lokal ini malangnya baik secara eksplisit maupun implisit mau tak mau hanya menjadi pembungkus dari kedigdayaan bunyi-bunyi kolonial yang matematis dan mekanis. Dengan begitu Bunyi Lokal tak lain hanya menghadirkan romantika-romantika sesaat, dan eksotisme yang dangkal disebabkan nilai dan mistisisme di dalamnya telah dibunuh oleh sistem mekanika musik Barat. Musik menjadi begitu rapuh, tidak sanggup menarik pendengarnya dari dunia yang sistemik.

Dari uraian ini dapat disimpulkan musik tidak lagi menawarkan apa-apa kecuali bunyi yang commonsense. Alih-alih menjadi seni yang agung, revitalisasi musik lokal sebagaimana musik kebanyakan tak lebih hanya melegitimasi kesadaran palsu, tak ada batas antara musik yang lokal dan yang korporal, sehingga dampaknya adalah penyeragaman nilai-nilai estetis yang berujung pada patologi di ruangruang kesenian.

Berdasarkan proyeksi di atas, dibutuhkan suatu upaya menarik kembali bunyi yang common-sense ini keluar dari pakem mekanik musik yang selama ini memenjara bunyi. Salah satu usahanya adalah dengan menggali kembali kekayaan intelektual yang tersebar di bumi Nusantara. Terutama di dalam kebudayaan Makassar kita masih dapat menarik napas panjang sebab beberapa instrument-instrumen melodi lokal belum terdikte oleh sistem solmisasi, seperti terompet pui-pui, beberapa jenis keso-keso, seruling Malino, dan alat musik bambu di Kajang.

Ilustrasi Foto : Tammate Idea Management (TIM)

Proyek Solmisasi merupakan pemetaan paling nyata di dunia musik yang menandakan kedigdayaan telinga Barat dalam merebut mitos-mitos lokal lalu digantikan rasionalisme Barat yang materialis. Untuk menyehatkan Bunyi, penggarap berusaha memulai meredefinisi musik lokal Makassar melalui entitas lokal yang jauh hubunganya dengan musik. Hal ini dilakukan agar bunyi dapat dirasakan oleh lebih banyak indera, dan tentunya musik juga merupakan produk manusia yang tidak hadir dengan sendirinya dalam arti ia tidak datang dari kekosongan kebudayaan. Ia seperti karya seni lainnya memiliki relasi antara satu entitas dengan entitas lainnya seperti dialek, bentuk rumah, tata krama, dan pakaian kehormatan. Kesemuanya itu memiliki hubungan yang saling menyokong satu sama lain.

Oleh karena itu di dalam agenda penyegaran Bunyi ini Entitas yang penggubah berusaha artikulasikan adalah manca’. Manca’ sendiri merupakan seni beladiri khas Makassar yang turun-temurun menjadi benteng bagi laki-laki Makassar melindungi harga dirinya dan keluarganya. Dalam gerakan Manca’, terdapat banyak gerakan-gerakan mematikan seperti pukulan, gerakan menghindar, menangkis, membanting, dan mengunci. Namun yang membedakan manca’ dengan gerakan silat dan beladiri lainnya, manca tidak menggunakan kaki penggunanya untuk menyerang. Kaki dikembalikan ke fungsi naturalnya sebagai penyokong tubuh dan fungsi keseimbangan. Lagipula telapak kaki dalam tradisi Makassar tak pantas diangkat melampaui lutut, sebab hal itu dianggap tidak mencirikan kesantunan.Melalui manca ini, dapat ditarik satu pelajaran besar bahwa bagi orang Makassar rasa hormat mesti diberikan kepada siapapun bahkan kepada orang yang terang-terangan akan membahayakan nyawanya.

Dalam manca terdapat gerakan-gerakan yang menghasilkan bunyi. Saat mengambil posisi tarung, para pamanca’ (petarung manca’) sesekali menepuk tubuhnya atau menghentakkan kakinya ke tanah. Hentakan demi hentakan melalui telapak tangan dan telapak kaki itu tidak semata-mata dibuat untuk meruntuhkan nyali lawan tarung tetapi merupakan gerakan menghadirkan sumanga atau ruh ke dalam dirinya. Dalam kearifan lokal Makassar membangkitkan sumanga berarti menyelami diri ke dalam rewasa. Sebagian budayawan Makassar menyebut rewasa adalah asal-usul diri. Jika seorang Makassar mampu menemukan rewasa-nya dalam a’manca’ (bertarung), ia tak perlu takut menghadapi siapapun.

Walaupun demikian manca’ sendiri jarang digunakan dalam mengistilahkan aktivitas beladiri. Istilah yang paling sering digunakan dalam hal ini adalah pakarena. Pakarena secara harfiah berarti pemain, atau orang yang mampu memainkan suatu permainan. Dalam keseharian, pembicaraan laki-laki Makassar sering mempredikatkan seorang jawara manca’ dengan istilah porei karenanna yang berarti cara main orang itu hebat. Bagi manusia Makassar bertarung itu adalah akkarena atau tidak lebih hanya bermain. Hal ini disebabkan dalam membeladirinya masih ada rasa respect terhadap lawan tarung, dan bertarung sebagaimana dijelaskan di atas adalah jalan menemukan rewasa, yang berarti dalam bertarung pun seorang Makassar masih tunduk pada Penciptanya. Jadi bertarung sesungguhnya bukan untuk menaklukkan lawan tetapi menundukkan hati kepada Sang Pemilik Gerak.

Oleh karena itu, bukan suatu kebetulan bahwa nama tari khas Makassar adalah tari Pakarena. Tari Pakarena sesungguhnya juga mengutamakan unsur-unsur spiritual sebagaimana yang digunakan para pamanca di atas. Dalam banyak kasus ketika gendang Makassar ditabuh perempuan-perempuan Makassar mengalami ekstase sehingga tubuh mereka digerakkan oleh kekuatan lain yang ada dalam diri mereka menyerupai tari Pakarena, hanya saja gerakan ini lebih halus dan tentunya melampaui konvensi-konvensi tari Pakarena modern. Baik Pakerena tari maupun Pakarena manca’, keduanya digerakkan oleh bunyi. Bunyi yang sesungguhnya adalah teror tetapi hasilnya meneduhkan, yakni gabungan pukulan gendang Makassar, pui-pui, dan gong. Ketiga unsur bunyi ini secara musikal sudah tidak tergolong instrumen musik yang menenangkan, apalagi kontempelatif. Sebab riuh gendang dan suara pui-pui yang melengking secara material tidak layak digunakan di acara-acara resmi atau upacara-upacara adat yang membutuhkan kesunyian. Namun kenyataannya tidak. Kehadiran ketiga instrumen bunyi ini tidak hanya merepresentasikan ritual adat tetapi juga jembatan bagi tubuh menemukan diri-nya.

Tak heran di ruang kontempelasinya pemangku-pemangku adat kerajaan Gowa hingga saat ini di waktu-waktu yang tidak jauh dari lima waktu shalat meminta untuk ditabuhkan gendang Makassar. Dalam banyak kasus, penghuni rumah dan tamu yang sedang melaksanakan korontigi/mappaccing, ritual pernikahan semalam sebelum ijab-qabul, tanpa sadar meneteskan air mata, bahkan menundukkan kepala mereka saat tabuhan pertama gendang dihentakkan.Peristiwa ini adalah pertemuan antara diri dan rewasa dimana Bunyi menjadi tau atau subjek yang mengantar sumanga ke titik yang terdalam dari dirinya. Kedua orang tua dan saudarnya itu tak lama lagi akan melepas anaknya seperti anak panah yang bertahun-tahun ditariknya hingga anak panah dan busur panah menyatu satu dengan yang lain. Saat anak panah dilepas, busur panah tak pernah tahu akan
kemana anaknya melesat. Jauh dari batas pandang! Pukulan gendang, lengking pui-pui, dan gaung gong mengelus dada mereka, merefleksi kehidupan mereka bahwa manusia berawal dari tidak memiliki apaapa, oleh karena itu ia juga tak perlu merasa kehilangan.

Dari kasus-kasus ini dapat disimpulkan bahwa ada komunikasi non-verbal antara bunyi dan sumanga atau ruh di dalam alunan gendang Makassar dan orang-orang Makassar sendiri. Oleh karena tidak mengejutkan apabila jika dari sekian banyak karakter dan nama-nama jenis pukulan gendang Makassar di antaranya ada yang diberi nama tunrung pa’balle yang maknanya bersayap di satu sisi ia bermakna pukulan untuk mengobati, dan di sisi yang lain dapat bermakna pukulan untuk menemani ruh jika dipadankan dalam idiom pabale(i) sumanga.

Dengan memahami wacana ini dengan baik, penggubah berusaha dengan sangat teliti menenun proyek bunyi ini ke dalam media kromatik. Musik simponi yang terdiri dari instrument-instrumen klasik ini dipaksa untuk tunduk kepada pakem lokal Makassar agar menghindari reduksi musik lokal ke dalam pakem Barat, sebagaimana nasib malang yang terjadi di dalam musik lokal kita. Dengan kata lain untuk menghindari common-sense musik lokal, kami mau tidak mau harus melabrak pakem konvensional musik demi menemukan kesejatian musik tradisional sebagaimana yang kami artikulasikan di atas.

Musik sebagaimana konsep gendang Makassar di atas selayaknya memberikan teror kepada pendengar, sebab teror dalam musik secara khusus dan kesenian secara umum itu menyehatkan. Begitupun juga proyek ini. Melalui instrument klasik Barat yakni gubahan musik simfoni, kami berusaha menyehatkan kembali telinga dunia dengan bunyi dari intisari kearifan lokal Makassar, yakni kembali ke rewasa.

Sumber: Tammate Idea Management (TIM)