BERANDANEWS – Makassar, Generasi Z (Gen Z) kerap disebut sebagai generasi yang kritis, terbuka, dan akrab dengan perubahan sosial.
Namun, di balik citra tersebut, muncul fenomena menarik di dunia pendidikan: pelajaran Agama termasuk salah satu mata pelajaran yang paling tidak disukai oleh Gen Z.
Anggapan ini bukan sekadar asumsi, melainkan tercermin dalam sejumlah survei dan penelitian, baik global maupun di Indonesia.
Data Survei: Agama Masuk Daftar Pelajaran Paling Tidak Disukai
Survei Ipsos Education Monitor 2025 menunjukkan bahwa sekitar 30 persen responden Gen Z secara global menyebut pelajaran Agama sebagai mata pelajaran yang paling tidak mereka sukai di sekolah.
Angka ini relatif lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya dan menunjukkan adanya jarak antara pendekatan pendidikan agama formal dengan preferensi belajar Gen Z.
Dalam survei yang sama, Gen Z cenderung lebih menyukai mata pelajaran yang dianggap relevan dengan masa depan dan kehidupan praktis, seperti sains, teknologi, dan keterampilan terapan.
Religius, Tapi Tidak Selalu Institusional
Sejumlah riset internasional menegaskan bahwa Gen Z bukan generasi yang sepenuhnya meninggalkan nilai spiritual, tetapi cara mereka memaknai agama berbeda dari generasi sebelumnya.
Studi dari Zipdo dan Gitnux menunjukkan bahwa banyak Gen Z:
– Menganggap spiritualitas sebagai urusan personal
– Kurang terikat pada ritual dan institusi agama formal
– Jarang mengikuti praktik keagamaan rutin secara konvensional
Akibatnya, pelajaran Agama yang disampaikan dengan pendekatan normatif, hafalan, dan ritualistik sering dianggap kurang relevan dengan pencarian makna hidup versi Gen Z.
Konteks Indonesia: Kurikulum Dinilai Kurang Kontekstual
Di Indonesia, sejumlah penelitian juga mencatat tantangan serupa. Kajian dari CONVEY Indonesia menyoroti bahwa pendidikan agama di sekolah belum sepenuhnya menjawab isu-isu sosial yang dekat dengan kehidupan generasi muda, seperti toleransi, keberagaman, keadilan sosial, dan kehidupan digital.
Sementara itu, riset INFID mengenai sikap Generasi Milenial dan Gen Z terhadap toleransi menunjukkan bahwa anak muda Indonesia menginginkan pendidikan agama yang lebih inklusif, membuka ruang dialog antaragama, dan tidak semata-mata berfokus pada dogma internal satu agama.
Ketika pelajaran Agama tidak dikaitkan dengan realitas keberagaman dan tantangan sosial sehari-hari, siswa cenderung melihatnya sebagai mata pelajaran “wajib administratif”, bukan ruang refleksi dan pembentukan karakter.
Skeptisisme terhadap Institusi
Faktor lain yang turut berperan adalah sikap kritis Gen Z terhadap institusi besar, termasuk institusi keagamaan. Berbagai studi sosiologis mencatat bahwa Gen Z lebih sensitif terhadap isu kesetaraan gender, hak asasi manusia, dan inklusivitas. Ketika ajaran agama di kelas disampaikan secara kaku atau tidak memberi ruang diskusi kritis, hal ini berpotensi memicu resistensi, bukan ketertarikan.
Bukan Menolak Agama, Tapi Menolak Cara Mengajarkannya
Penting dicatat, ketidaksukaan terhadap pelajaran Agama tidak selalu berarti penolakan terhadap nilai-nilai agama itu sendiri. Banyak Gen Z justru tertarik pada nilai moral, makna hidup, empati, dan keadilan sosial nilai-nilai yang juga menjadi inti ajaran agama.
Masalahnya terletak pada pendekatan pedagogis yang belum bertransformasi mengikuti karakter generasi baru: dialogis, kontekstual, dan relevan dengan realitas sosial.
Sebagai kesimpulan, Fenomena pelajaran Agama yang kurang diminati Gen Z merupakan sinyal penting bagi dunia pendidikan. Data menunjukkan bahwa:
– Gen Z menginginkan pelajaran yang relevan dengan kehidupan nyata
– Spiritualitas dipahami secara personal, bukan semata institusional
– Pendidikan agama perlu lebih kontekstual, inklusif, dan dialogis
Jika pendidikan agama mampu beradaptasi dengan cara berpikir Gen Z, bukan tidak mungkin mata pelajaran ini justru menjadi ruang refleksi yang bermakna, bukan sekadar kewajiban kurikulum.(red)





