OPINI – Pernyataan seorang kader yang menyebut bahwa
“Senior, sekalipun salah, harus tetap dibela”
Kalimat tersebut belakangan menjadi perbincangan publik. Kalimat yang sederhana ini menimbulkan kekecewaan mendalam, sebab ia lahir dari seorang yang mengaku bagian dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai organisasi yang selama puluhan tahun dikenal menjadi kawah candradimuka para intelektual muda bangsa.
Namun, membela senior tanpa nalar adalah bentuk pengkhianatan terhadap nilai dasar HMI itu sendiri. Sebab, di dalam Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI, kejujuran, kebenaran, dan tanggung jawab moral adalah pondasi utama seorang kader. Membela kesalahan berarti meruntuhkan prinsip-prinsip itu, sekaligus merendahkan martabat organisasi di mata publik.
Hilangnya Etika Intelektual
Aktivis yang berpikir kritis tidak boleh tunduk pada romantisme senioritas. Loyalitas dalam organisasi tidak berarti menutup mata terhadap kesalahan, melainkan berani meluruskannya dengan cara yang bermartabat. Ketika seorang kader membenarkan kekeliruan hanya karena kedekatan emosional, maka yang lahir bukan solidaritas, melainkan feodalisme baru yang menyesatkan.
Fenomena “pembelaan membabi buta” ini sering kali disertai gaya retorika kasar dan emosional di ruang publik. Alih-alih menunjukkan kecerdasan dan kedewasaan berpikir, justru yang tampak adalah mental premanisme akademik di mana suara lantang lebih dihargai daripada nalar jernih. Padahal, seorang aktivis sejati seharusnya menjadikan akal sehat dan nilai sebagai senjata utamanya, bukan loyalitas buta.
Jihad atau Jahat?
Membela senior bukanlah jihad. Jihad berarti perjuangan menegakkan kebenaran, menolak kezaliman, dan menjaga integritas moral, sekalipun melawan arus. Ketika pembelaan dilakukan terhadap sesuatu yang salah, maka itu bukan jihad — itu jahat. Perbedaan satu huruf ini menggambarkan jurang moral yang sangat lebar.
HMI seharusnya menjadi ruang pembelajaran tentang integritas, bukan ajang pembenaran perilaku pragmatis. Menyebut tindakan membela kesalahan sebagai “jihad” sama saja dengan mengkhianati nilai perjuangan itu sendiri. Yang dibutuhkan sekarang bukan kader yang pandai menjilat, tetapi yang berani berpikir dan berkata benar meski melawan arus senioritas.
Kembali ke Idealisme
Setiap kader HMI punya tanggung jawab moral untuk menjaga wajah organisasinya di hadapan publik. HMI adalah rumah ide dan gagasan, bukan panggung untuk menampilkan loyalitas buta. Aktivisme tanpa etika hanyalah ego yang dibungkus jargon perjuangan.
Sudah saatnya kader muda HMI berhenti “melacurkan idealisme” demi jabatan atau kedekatan dengan senior. Jadilah kader yang otentik yang berpikir dengan kepala sendiri, berbicara dengan data dan gagasan, serta bertindak dengan nurani. Sebab, kejujuran intelektual jauh lebih abadi daripada loyalitas politik sesaat.
HMI besar bukan karena banyak kadernya di jabatan publik, melainkan karena semangat pembaruan, keberanian berpikir kritis, dan keikhlasan berjuang untuk nilai. Maka, membela kesalahan bukan tanda setia, melainkan tanda bahwa nurani telah pudar. Jika itu yang terjadi, maka yang kita hadapi bukan lagi kader pejuang, tapi penjilat yang kehilangan arah.
Penulis
Dr. Ibnu Hajar, M.I.Kom
Akademisi UIN Alauddin Makassar





