OPINI – Makassar kembali mengirimkan pesan keras ke Jakarta. Demonstrasi penolakan kedatangan Joko Widodo sebagai Dewan Pembina PSI bukan sekadar aksi jalanan biasa, melainkan simbol perlawanan terhadap arogansi kekuasaan yang mencoba memaksakan dominasi di tanah yang menjunjung tinggi kemerdekaan dan independensi berpikir. Upaya PSI menjadikan Makassar sebagai “Kandang Gajah” justru memicu amarah kolektif rakyat Sulawesi Selatan.
PSI: Partai Seumur Jagung, Minim Substansi
Upaya “invansi” PSI ke Makassar menunjukkan betapa partai ini gagal membaca denyut nadi masyarakat Sulsel. Sebagai partai yang baru seumur jagung, PSI tampil dengan gaya “sok kuasa” namun keropos secara visi.
Krisis Identitas Kader: Bagaimana mungkin sebuah partai mengusung nama “Solidaritas” jika kadernya sendiri gagal paham makna solidaritas? Mereka tampak sibuk menjadi perisai kekuasaan daripada menjadi penyambung lidah rakyat yang terkena bencana.
Retorika Kosong Sang Ketua: Pidato Kaesang Pangarep di hadapan publik seringkali dinilai “planga-plongo”, hampa, dan jauh dari kedalaman substansi. Nilai “0 besar” dalam narasi politiknya menunjukkan bahwa PSI hanya menjual figur dan koneksi keluarga, bukan kecerdasan ideologi yang dibutuhkan rakyat Makassar yang kritis.
Manuver RMS: Strategi “Kutu Loncat” demi Selamatkan Diri?
Pindahnya RMS dari NasDem ke PSI menjadi sorotan tajam. Publik tidak melihat ini sebagai perpindahan ideologis, melainkan murni pragmatisme “kutu loncat”.
Ilustrasi Borgol Besi: Ada spekulasi kuat di tengah masyarakat bahwa langkah RMS ini adalah upaya mencari suaka politik. Ibarat mencari sandaran siapa saja yang dianggap mampu menjauhkannya dari ancaman “borgol besi” dan dinginnya jeruji penjara. Ini adalah bentuk loyalitas semu demi penyelamatan diri sementara.
Salah Kalkulasi Politik: RMS mungkin lupa atau gagal membaca arah angin. Kekuasaan hari ini bukan lagi milik Jokowi, melainkan Prabowo Subianto dengan Gerindra-nya. Loncat ke gerbong PSI yang merupakan “kereta bayangan” Jokowi bisa jadi adalah langkah blunder. RMS terindikasi “salah loncat” karena gerbong kekuasaan yang sesungguhnya telah bergeser.
Kebangkitan Kecerdasan Publik Makassar
Masyarakat Sulawesi Selatan, terutama generasi Z yang energik dan melek informasi, sudah mencapai titik jenuh. Mereka lelah dikibuli dengan janji-janji manis yang berakhir sebagai pepesan kosong.
Stop Aksi Tipu-Tipu: Istilah yang populer di kalangan Gen Z ini menjadi tamparan bagi politisi gaya klasik yang masih menggunakan metode lama dalam memanipulasi opini publik. Makassar adalah kota para pejuang, bukan tanah jajahan bagi para politisi yang hanya datang untuk menancapkan kuku kekuasaan melalui partai-partai instan.
Harga Diri yang Tak Terbeli
Eskalasi penolakan ini membuktikan bahwa Makassar bukan “Kandang Gajah” yang bisa dijinakkan dengan mudah. Rakyat Sulsel sudah terlalu cerdas untuk kembali masuk ke lubang yang sama. Jika PSI dan para tokoh di belakangnya tetap memaksakan narasi manipulatif, mereka akan berhadapan dengan tembok besar bernama harga diri rakyat yang sudah muak dengan segala bentuk kepalsuan politik.
Penulis
Dr. Ibnu Hajar Yusuf, M.I.Kom
Akademisi UIN Alauddin Makassar





