KOLOM – Hari ini, Kamis (29/1/2026) Makassar kembali diuji. Bukan oleh bencana, bukan oleh perang, tapi oleh satu watak lama dalam politik: takut pada kritik, lalu menyebutnya ancaman ketertiban.
Di kota ini, sebuah panggung dibangun megah. Simbol besar ditampilkan gagah. Gajah dipertontonkan sebagai lambang kekuatan dan solidaritas. Tetapi yang kita saksikan justru sebaliknya: ketika rakyat bertanya, yang muncul bukan jawaban—melainkan kecurigaan. Ketika rakyat bersuara, yang dipakai bukan argumentasi—melainkan narasi “chaos”.
Maka hari ini, kita harus berkata terang:
ketertiban yang memburu suara bukan ketertiban, itu penjinakan.
Dan politik yang menolak kritik bukan politik yang kuat, melainkan politik yang rapuh, karena ia berdiri di atas panggung, bukan di atas keberpihakan.
Kami merasakan sendiri: kami dibelah, dibenturkan, dibuat kejar, dibuat takut. Seolah-olah pertanyaan adalah dosa. Seolah-olah suara rakyat harus minta izin. Seolah-olah demokrasi hanya sah jika ia diam dan patuh.
Tapi Makassar bukan tanah untuk membesarkan kesombongan.
Makassar adalah tanah yang mengajari: harga diri lebih mahal daripada tepuk tangan.
Di saat gajah politik melangkah terlalu besar, kita tidak perlu jadi penonton yang menyingkir. Kita harus jadi rakyat yang berdiri—bukan untuk ricuh, tetapi untuk memastikan kota ini tidak berubah menjadi ruang sunyi yang dipaksa tertib.
Suluh perjuangan hari ini sederhana:
kita tidak melawan dengan kebencian, kita melawan dengan kesadaran.
Kita tidak membalas dengan kekerasan, kita membalas dengan keteguhan.
Karena kekuasaan paling takut bukan pada keributan, melainkan pada rakyat yang tidak bisa lagi ditipu.
Dan kepada siapa pun yang datang membawa simbol besar ke Makassar:
jangan jadikan kota ini panggung.
Jangan jadikan rakyat sebagai figuran.
Jika kalian mengaku solidaritas, maka buktikan: berani diuji, berani dikritik, berani berpihak.
Sebab di tanah ini, sejarah selalu memilih yang tegas: yang anti kritik akan runtuh oleh kritik itu sendiri. Dan yang memburu suara rakyat, pada akhirnya akan diburu oleh ingatan rakyat.
Makassar tidak akan tunduk.
Makassar akan tetap menyala.(red)





