Kouta CPNS untuk Penyandang Disabilitas ditambah

Kouta CPNS Disabilitas ditambah

Berandasulsel.com – Makassar, Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Makassar menambah kouta Calon Pegawai Negeri Sipil untuk penyandang disabilitas tahun ini dibanding tahun lalu. Sementara kouta cumlaude dikurangi.

Kepala Bidang Pengadaan dan Informasi BKD Kota Makassar, Abd Kadir Masri mengatakan, untuk pendaftaran 2019 ini, ada 10 formasi yang disediakan bagi peserta penyandang disabilitas. Dibanding tahun sebelumnya yang hanya tiga formasi saja.
Untuk formasi yang disediakan diantaranya , lima Guru Agama Islam Ahli Pertama, satu Guru Bimbingan Konseling Ahli Pertama, dua Guru Kelas Ahli Pertama, satu Mediator hubungan industrial ahli pertama, dan satu Penyuluh penanganan masalah sosial.

“Berbeda dengan tahun lalu, untuk tahun ini memang lebih banyak. Kita sesuaikan dengan kouta dua persen dari jumlah kouta yang akan diterima. Kalau tahun lalu ada tiga, tapi yang lulus cuma satu karena tidak memenuhi passing grade,” ungkap Kadir.
Sedangkan untuk jalur cumlaude, dikurangi dari tahun sebelumnya. Jika sebelumnya pemerintah kota menerima 16 formasi untuk cumlaude, tahun ini hanya empat saja. Ke empat formasi tersebut antara lain satu guru kelas ahli pertama, satu Penata ruang ahli pertama, satu ahli pertama pengawas penyelenggaraan urusan pemerintahan di daerah, dan satu pranata komputer ahli pertama.

Ada 14 kouta untuk disabilitas dan cumlaude ini tidak menambah kouta 526 yang disediakan pemerintah Kota Makassar. Artinya 14 kouta ini sudah masuk hitungan kouta keseluruhan pemkot makassar. Pendaftar melalui dua jalur ini yang nantinya tidak lolos, maka akan dikembalikan ke jalur umum. Jadi memang ada pengkhususan bagi para disabilitas dan cumlaude ini.

“Jika ada yg tidak lolos disini, dia kembali ke formasi umum. Jadi nanti siapa di umum, diurut berdasarkan peringkat lagi. Karena sebenarnya mereka ini berada di jalur umum, tapi kita porsikan di sini (disabilitas dan cumlaude),” tambah Kadir.

Para pelamar disabilitas ini harus memiliki kriteria khusus. Antara lain pelamar yang mengalami keterbatasan fisik, kelainan, kerusakan pada fungsi gerak yang diakibatkan oleh kecelakaan atau pembawaan sejak lahir (bukan disabilitas intelektual, mental, dan/atau sensorik). Tentu dengan ketentuan mampu melakukan tugas menganalisa, mengetik, menyampaikan buah pikiran, dan berdiskusi.

Sementara untuk cumlaude adalah pelamar lulusan terbaik (berpredikat cumlaude/dengan pujian) dengan IPK minimal 3,51 yang dibuktikan dengan keterangan lulus cumlaude/”dengan pujian” pada ijazah atau transkrip nilai.

Ketentuannya yaitu berasal dari Perguruan Tinggi Dalam Negeri terakreditasi A/Unggul dan Program Studi terakreditasi A/Unggul pada saat kelulusan yang dibuktikan dengan tanggal kelulusan yang tertulis pada ijazah. Atau telah memperoleh penyetaraan ijazah dan surat keterangan yang menyatakan predikat kelulusannnya setara cumlaude/”dengan pujian” dari Kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang Pendidikan tinggi jika berasal dari Perguruan Tinggi Luar Negeri.(*)