OPINI – Lapas sering dipahami sebagai tempat yang selesai: ruang penghukuman, ruang pembatasan, ruang yang memutus seseorang dari dunia luar. Dalam bayangan publik, lapas identik dengan tembok tinggi, pintu besi, jeruji, dan ketegangan yang tidak pernah benar-benar reda.
Namun pemasyarakatan modern menuntut definisi yang lebih maju: lapas bukan semata tempat menahan, melainkan ruang pembinaan—ruang untuk membentuk ulang kedisiplinan, kesadaran, dan tanggung jawab.
Esai ini ditulis sebagai bentuk apresiasi terhadap KPLP Lapas Takalar, Heince, yang dalam kerja sehari-harinya menunjukkan keberanian meramu definisi baru tentang lapas: bukan dalam slogan, melainkan dalam terjemahan praktik dan interaksi nyata di dalam lingkungan pemasyarakatan.
Dalam perspektif kelembagaan, pembinaan tidak pernah bisa berdiri tanpa prasyarat paling mendasar: ketertiban. Tidak ada rehabilitasi tanpa stabilitas. Tidak ada perubahan tanpa rasa aman.
Pembinaan membutuhkan iklim yang memungkinkan seseorang menata ulang dirinya, bukan sekadar bertahan dari tekanan dan konflik. Di sinilah peran KPLP menjadi titik kunci, dan Heince berdiri di garis depan: memastikan lapas berjalan dalam ritme yang tertib, terukur, dan terkendali.
Ketertiban di lapas bukan sekadar “sunyi karena takut”. Ketertiban yang ideal adalah ketertiban yang lahir dari sistem yang bekerja: aturan yang jelas, penegakan yang konsisten, serta disiplin yang tidak memilih-milih.
Ketika ketertiban dibangun dengan cara seperti ini, ia tidak menjadi alat penindasan, melainkan fondasi pembinaan. Ia memberi ruang bagi program pembinaan untuk hidup, bagi warga binaan untuk berpikir ulang, dan bagi institusi untuk menjalankan fungsi pemasyarakatan secara bermartabat.
Di titik ini, ketegasan Heince patut dipahami sebagai ketegasan yang beretika. Ketegasan bukan berarti keras tanpa arah. Ketegasan bukan berarti menakut-nakuti demi kepatuhan semu. Ketegasan yang patut diapresiasi adalah ketegasan yang memiliki tujuan: menjaga lapas tetap aman, menjaga warga binaan tetap terkendali, sekaligus menjaga agar proses pembinaan tidak runtuh oleh kekacauan.
Ketegasan semacam itu biasanya memiliki tiga karakter utama: konsisten, terukur, dan mendidik. Konsisten berarti aturan berlaku untuk semua, tanpa celah pilih kasih. Terukur berarti tindakan selalu berada dalam koridor prosedur, bukan dalam luapan emosi.
Mendidik berarti orientasi akhirnya bukan mempermalukan, melainkan memperbaiki. Dalam ruang sekompleks lapas, ketegasan seperti ini adalah bentuk keberanian yang sesungguhnya: berani tegas tanpa kehilangan akal sehat, berani disiplin tanpa kehilangan kemanusiaan.
Definisi baru Lapas Takalar yang diramu melalui kerja KPLP dan diterjemahkan secara nyata oleh Heince—dapat dibaca dari hal-hal yang tampak kecil, tetapi sangat menentukan: pola interaksi yang lebih tertib, potensi konflik yang lebih cepat diredam, budaya disiplin yang lebih hidup, dan suasana yang lebih terkendali. Di lapas, interaksi adalah medan paling krusial.
Warga binaan bukan angka statistik; mereka manusia dengan emosi, riwayat, luka, serta harapan yang kadang rapuh. Maka menjaga interaksi tetap sehat adalah bagian penting dari menjaga pembinaan tetap berjalan.
Dalam konteks ini, Heince tidak sekadar menjaga pintu dan pagar. Ia menjaga iklim. Dan iklim adalah faktor paling menentukan dalam pembentukan perilaku sosial. Manusia tidak berubah hanya karena mendengar nasihat; manusia berubah karena hidup dalam sistem yang membuatnya belajar ulang tentang batas, konsekuensi, dan tanggung jawab.
Apresiasi terhadap KPLP Lapas Takalar dan secara khusus kepada Heince, pada akhirnya bukan hanya soal memuji ketegasan, tetapi memahami dampaknya. Karena lapas yang tertib dan manusiawi akan mengembalikan warga binaan dengan kesiapan yang lebih baik untuk kembali ke masyarakat.
Sebaliknya, lapas yang kacau hanya melahirkan residu masalah yang akan berulang di luar tembok. Dalam arti ini, ketegasan KPLP adalah bentuk perlindungan sosial: menjaga lapas dari kekacauan sekaligus menjaga masyarakat dari siklus yang sama.
Pada akhirnya, definisi baru pemasyarakatan tidak ditentukan oleh kalimat di spanduk, melainkan oleh disiplin yang hidup setiap hari. Heince sedang menunjukkan bahwa ketertiban bukan musuh pembinaan—ketertiban adalah syaratnya.
Dan ketegasan yang beretika bukan lawan kemanusiaan—ketegasan yang beretika justru cara paling masuk akal untuk menjaga kemanusiaan tetap ada di tempat yang paling mudah kehilangan kemanusiaan.
Di balik tembok lapas, yang dijaga bukan hanya keamanan. Yang dijaga adalah kemungkinan manusia untuk berubah. Dan perubahan adalah harapan paling konkret yang bisa ditanamkan oleh sebuah institusi pemasyarakatan.
Penulis
Illank Radjab. S.H
Ketua Umum Lembaga Study Hukum dan Advokasi Rakyat Sulawesi Selatan
(LASKAR SULSEL)





