Ecoenzym dan Urban Farming: Satu Tarikan Nafas Mewujudkan Makassar yang Mandiri dan Berkeadilan Ekologis

Mashud Azikin, Pegiat Ecoenzym / Founder Komunitas Manggala Tanpa Sekat

KOLOM – Di tengah deru pembangunan dan ekspansi kota yang kian masif, Makassar menyimpan asa baru dalam denyutnya—sebuah upaya kolektif warga dan komunitas untuk merawat bumi melalui gerakan ecoenzym dan urban farming. Dua pendekatan yang semula berjalan sendiri-sendiri, kini mulai bertemu dalam satu tarikan nafas: membangun kemandirian pangan dan memulihkan keadilan ekologis.

Gerakan ecoenzym di Kota Makassar bukan sekadar kampanye pemanfaatan limbah organik menjadi cairan multiguna. Lebih dari itu, ia telah menjelma menjadi simbol kesadaran ekologis masyarakat kota yang haus akan solusi konkret atas krisis lingkungan.

Ketika rumah-rumah warga mulai menghasilkan ecoenzym dari limbah dapur mereka sendiri, kita tidak hanya sedang mengurangi volume sampah, tetapi juga sedang menanamkan paradigma baru: bahwa solusi ada di tangan sendiri.

Cairan ecoenzym terbukti mampu memperbaiki kualitas air, menyuburkan tanah, bahkan mereduksi bau limbah. Namun yang lebih penting, ia memperbaiki relasi manusia dengan alam.

Di sisi lain, praktik urban farming yang tumbuh di gang-gang sempit, halaman rumah, hingga atap gedung, melengkapi narasi ini dengan menghadirkan ketahanan pangan skala mikro. Sayur mayur tumbuh subur dalam polybag dan hidroponik sederhana, dipupuk dengan kompos dari limbah rumah tangga dan disiram dengan cairan ecoenzym. Harmoni yang nyaris puitis.

Di sinilah letak titik temu keduanya. Ecoenzym dan urban farming adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Yang satu mengolah limbah, yang lain menumbuhkan harapan.

Keduanya menjawab kegelisahan urban atas ketergantungan terhadap sistem industri besar yang tak ramah lingkungan. Keduanya menawarkan sebuah jalan keluar: membangun Makassar yang mandiri dari dapurnya sendiri, dari kebunnya sendiri, dan dari kesadarannya sendiri.

Gerakan ini bukan tanpa tantangan. Kurangnya dukungan struktural, minimnya literasi lingkungan, dan kebijakan yang belum sepenuhnya berpihak seringkali menghambat skala gerakan ini tumbuh lebih luas.

Namun jika kita refleksikan, justru dari akar rumputlah perubahan paling otentik bermula. Komunitas-komunitas seperti Manggala Tanpa Sekat, Forum Ecoenzym Makassar, dan kelompok tani kota lainnya telah membuktikan bahwa gerakan dari bawah bisa mengguncang cara pikir dan cara hidup masyarakat kota.

Mewujudkan Makassar yang berkeadilan ekologis berarti meletakkan hak atas lingkungan hidup yang sehat sebagai hak dasar semua warganya. Artinya, setiap rumah harus punya akses terhadap edukasi pengolahan sampah. Setiap RW harus punya kebun pangan. Setiap sekolah harus mengajarkan bagaimana mencintai tanah, air, dan udara sejak dini. Semua itu bisa dimulai dari dua hal sederhana: ecoenzym dan urban farming.

Dari dapur kita, dari pekarangan kita, dari tangan-tangan warga biasa—Makassar bisa menjadi kota mandiri yang adil secara ekologis. Sebab dalam satu tarikan nafas antara ecoenzym dan urban farming, kita sedang membangun peradaban baru: kota yang tumbuh bukan dengan mengorbankan alam, tapi yang tumbuh karena selaras dengan alam.

Refleksi dari Gerakan Menggaungkan Ecoenzym di Kota Makassar

Penulis
Mashud Azikin,
Pegiat Ecoenzym / Founder Komunitas Manggala Tanpa Sekat