OPINI – Dalam beberapa tahun terakhir, ruang kelas kita telah bertransformasi menjadi landscape digital. Layar laptop menggantikan papan tulis, e-book mulai menggeser buku teks, dan perpustakaan konvensional berjuang untuk tetap relevan di tengah gempuran informasi dari ujung jari. Digitalisasi dalam pendidikan adalah sebuah keniscayaan, sebuah pintu gerbang yang membuka dunia tanpa batas bagi siswa dan mahasiswa.
Namun, di balik efisiensi dan kemudahannya, tersembunyi sebuah paradoks: kita sedang memanen generasi yang terhubung secara global tetapi semakin terputus dari kedalaman makna sebuah bacaan.
Digitalisasi hadir sebagai penyelamat di masa pandemi dan percepatan teknologi. Platform belajar online, bank soal digital, dan video tutorial telah menjadi “teman sekelas” baru yang sangat membantu.
Mahasiswa dapat mengakses jurnal internasional tanpa harus ke perpustakaan, siswa SMA dapat belajar dari simulasi interaktif, dan anak SD dapat melihat gambar hewan dalam bentuk 3D. Semua ini adalah kemajuan yang patut diapresiasi.
Namun, kita tidak boleh menutup mata pada dampak sampingnya. Kemunduran literasi baca bukan sekadar tentang tidak lagi memegang buku fisik, melainkan tentang pergeseran pola konsumsi informasi. Generasi digital native terbiasa dengan informasi yang serba instan, pendek, dan visual.
Algoritma media sosial mendikte konten yang mereka baca, cenderung pada yang populer, bukan yang substantif. Ini melatih otak untuk berpikir secara skimming (membaca cepat dan melompat-lompat), bukan deep reading (membaca mendalam dengan pemahaman kritis).
Hasilnya? Kemampuan analisis, konsentrasi, dan empati yang banyak diasah melalui membaca buku panjang dan berkelanjutan mulai tergerus.
Seorang siswa mungkin bisa menjawab kuis online dengan cepat, tetapi seringkali kesulitan untuk merangkum sebuah argumen atau menyusun esai yang koheren. Mereka terpapar pada banyak informasi, tetapi minim pemahaman.
Lantas, apakah kita harus menolak digitalisasi? Tentu tidak. Langkah mundur bukanlah sebuah opsi. Yang kita butuhkan adalah strategi sinergi yang memadukan kekuatan digital dengan jiwa literasi tradisional. Berikut adalah beberapa solusi cerdas yang dapat diimplementasikan yang pertama adalah Gerakan “Digital Detox” Terpimpin di Sekolah dan Kampus. Lembaga pendidikan harus secara proaktif menciptakan “zona bebas gadget” yang bukan untuk menghukum, tetapi untuk melatih konsentrasi. Misalnya, menerapkan “30 Menit Membaca Buku Fisik” setiap pagi sebelum pelajaran dimulai. Kegiatan ini tidak menghilangkan teknologi, tetapi menyeimbangkannya dengan melatih muscle memory dan kedalaman berpikir yang hanya didapat dari membaca buku fisik. Yang kedua adalah Kurikulum Melek Digital (Digital Literacy) yang Holistik. Literasi digital tidak boleh hanya diajarkan sebagai cara menggunakan software. Ia harus mencakup cara menyeleksi, menganalisis, dan memanfaatkan informasi digital. Mata pelajaran/mata kuliah harus menyertakan tugas yang mensintesis informasi dari tweet, blog, jurnal online, dan buku teks. Ajarkan siswa untuk membedakan sumber kredibel dan hoaks, serta menuliskan tanggapan kritis terhadap sebuah artikel online. Yang ketiga Memperkaya Koleksi Digital dengan Konten yang Mendalam. Perpustakaan dan platform edukasi harus berinvestasi lebih pada konten digital yang mendorong deep reading, bukan hanya sekadar menyediakan PDF buku teks. Langganan platform e-book yang menyediakan buku-buku non-fiksi populer, biografi, dan sastra klasik dapat menjadi alternatif. Aplikasi audiobook juga dapat menjadi “jembatan” untuk membangun minat baca sebelum beralih ke teks. Yang ke empat dimana Guru dan Dosen sebagai “Kurator Konten”. Peran pendidik bergeser dari “sumber ilmu” menjadi “pemandu dalam belantara informasi”. Mereka harus aktif merekomendasikan sumber bacaan online yang berkualitas, membimbing diskusi yang mendalam dari bacaan tersebut, dan mengajak siswa/mahasiswa untuk tidak hanya menjadi konsumen pasif, tetapi juga pencipta konten yang bernas seperti blog atau esai online.
Tantangan kita hari ini bukanlah memilih antara buku dan gawai. Melainkan, bagaimana kita menjadikan digitalisasi sebagai alat untuk mencapai tujuan literasi yang lebih mulia: membentuk manusia yang tidak hanya smart secara teknis, tetapi juga wise dalam berpikir dan kaya dalam imajinasi. Masa depan pendidikan ada pada kolaborasi, bukan dikotomi. Mari kita rawat kedalaman literasi baca dengan memanfaatkan keluasannya dunia digital. Dengan demikian, kita tidak hanya mencetak generasi yang cepat, tetapi juga generasi yang mendalam dan unggul.
Oleh : Basri Gassing, S.Sos.I., M.M
Tentang Penulis:
Basri Gassing adalah Praktisi Pendidikan, Penggiat Literasi, Penggiat organisasi kepemudaan PERTI Sul-Sel serta Dosen Bisnis dan Manajemen Ritel di Politeknik Indonesia Dapat dihubungi di email basrigassing@gmail.com





