Dampak Kenaikan Tarif BPJS Kesehatan

Berandasulsel.com – Makassar, Setelah diputuskan prihal naiknya iuran BPJS Kesehatan oleh pemerintah di awal 2020 dipastikan akan muncul berbagai dampak. Tak terkecuali potensi Peserta Bukan Penerima Upah (PBPU) yang ingin turun kelas. Dampak tersebut sebenarnya sudah terjadi di tahun 2016, saat pertama kali iuran BPJS Kesehatan naik. Prediksi ini pun sudah dipikirkan oleh BPJS Kesehatan untuk kenaikan tarif iuran yang sekarang.

Berdasarkan Perpres Nomor 75 tahun 2019, pemerintah menetapkan kenaikan iuran BPJS Kesehatan untuk segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) atau peserta mandiri, kategori kelas III naik menjadi Rp42 ribu, kelas II menjadi Rp110 ribu dan kelas I menjadi Rp160 ribu. Tarif baru ini berlaku mulai 1 Januari 2020.

Direktur Utama BPJS Kesehatan Fachmi Idris, mengungkapkan saat peserta ingin turun kelas sebenarnya tidak masalah. Pelayanan yang sama akan tetap diberikan kepada peserta, tanpa terjadi diskriminasi di fasilitas kesehatan (faskes).

“Saat iuran naik pasti ada potensi turun kelas. Tapi pelayanan BPJS Kesehatan di kelas apapun, pelayanan medik sama, tidak ada perbedaan,” ungkap Fachmi di Gedung BPJS Kesehatan, Jakarta Pusat, Jumat (1/11) kemarin.

Ketika masyarakat pilih turun kelas, Fachmi pun menjamin tidak terjadi lagi defisit di tahun-tahun mendatang. Sebab, salah satu alasan kenaikan iuran BPJS Kesehatan ini ditetapkan untuk mencegah defisit.

Sementara itu, anggapan masyarakat mulai bermunculan menanggapi kenaikan tersebut. M.Iskandar, menyebut kenaikan BPJS kesehatan bisa berdampak pada penurunan partisipasi masyarakat.

“Naiknya BPJS Kesehatan, dapat mengurangi partisipasi masyarakat untuk melanjutkan kepesertaannya,” ungkap M.Iskandar warga Makassar.

Sementara itu, Wiwi salah satu karyawan swasta, mengungkapkan hal yang sama, dirinya mengaku sudah jadi peserta BPJS kesehatan sudah hampir 10 tahun, dan mengambil kelas II, namun untuk mensiasatinya dirinya akan turun kelas ke kelas III.

“Hampirmi 10 tahun ikut BPJS Kesehatan, tapi karna ada kenaikan, terpaksa harus turun kelas di kelas III, biar dapat dijangkau,” tutup Wiwi yang berdomisili di Gowa sulsel.(*)