Bahas Tahun Politik, Aktifis di Makassar Tolak Wacana Pemakzulan

BERANDANEWS – Makassar, Wacana Pemakzulan yang diinisiasi oleh Kelompok sipil yang melabeli diri dengan sebutan petisi 100 mendapat respon dari Akademisi dan Mahasiswa di Makassar.

Hal ini tergambar dalam Dialog Interaktif yang diselenggarakan oleh Komunitas Pemuda dan Mahasiswa di Makassar yang membahas tentang Wacana Pemakzulan di tahun politik: Antara Propaganda dan Orientasi Kekuasaan, Jumat (02/2).

Tampil sebagai narasumber diantaranya Dr. Arief Wicaksono selaku akademisi yang juga pengamat politik dan Taqwa Bahar wakil ketua Pemuda ICMI Sulsel mewakili unsur Pemuda.

Dalam pemaparannya, Arief Wicaksono mengatakan bahwa Wacana Pemakzulan tersebut digerakkan oleh kelompok tertentu.

“Bisa saja gerakan ini merupakan bagian dari skenario politik yang menguntungkan pihak yang berkepentingan, dan kalau hal ini benar-benar dilakukan maka patut di duga ada kepentingan politik sehingga akan berpengaruh terhadap stabilitas politik dan keamanan karena dapat memicu terjadinya chaos”, ucap dosen Sospol universitas Bosowa ini.

Arief pun mengajak mahasiswa untuk dapat memilah agar tidak mudah tergiring oleh wacana tersebut.

“Saya juga mengajak teman-teman mahasiswa agar tidak mudah tergiring dengan opini Pemakzulan, karena tentunya sebagai mahasiswa dapat memilah yang mana sebuah gerakan yang murni untuk kepentingan bangsa dan yang mana gerakan yang berorientasi kepentingan kekuasaan”, terang Arief.

Hal senada juga diungkapkan, Taqwa Bahar, menurutnya wacana Pemakzulan tersebut seringkali disuarakan oleh Faisal Assegaff. Menurutnya bahwa apa yang dilakukan oleh petisi 100 bukanlah sebuah gerakan moral melainkan gerakan propaganda politik.

“Ya, saya menilai demikian sebab gerakan ini muncul ditahun politik, kalau memang gerakan tersebut murni adalah gerakan moral kenapa tidak dilakukan jauh sebelum proses pergantian kepemimpinan nasional yang saat ini sedang berlangsung, ini kan mau pilpres jadi semua orang pasti paham bahwa wacana Pemakzulan yang digaungkan sangat sarat dengan muatan politik apalagi yang sering muncul menyuarakan Pemakzulan ini seperti Faisal Assegaf, dan semua kalangan tahu siapa sebenarnya sosok Faisal Assegaff khususnya kelompok aktifis mahasiswa, orang ini sudah sejak lama mengkritik pemerintah dengan argumentasi dan narasi yang provokatif”, jelas Taqwa yang juga mantan aktifis HMI.

Dia pun menyebut wacana gerakan pemakzulan tersebut sudah terafiliasi dengan capres tertentu.

“Saya menduga bahwa kelompok yang mewacanakan gerakan Pemakzulan tersebut sudah terafiliasi dengan capres tertentu. Olehnya itu saya dan teman-teman menolak dan menyebutnya sebagai gerakan propaganda yang dilakukan dengan cara yang tidak etis dan jauh dari keadaban timur sebab gerakan ini dimunculkan disaat tahapan pilpres sedang berjalan. Meskipun Pemakzulan diatur dalam konstitusi Pasal 7 UUD 1945, namun gerakan yang digaungkan oleh Faisal Assegaff tersebut justru mencederai kepercayaan rakyat sipil, yang dimana berdasarkan survei kebijakan publik bahwa kepuasan masyarakat terhadap kinerja Pemerintah dibawah kepemimpinan Presiden Jokowi mencapai angka 75 % yang berarti bahwa dukungan kekuatan sipil masih mayoritas terhadap pemerintah Jokowi”, kunci Mahasiswa Pascasarjana Universitas Hasanuddin ini.

Kegiatan dialog tersebut ditutup dengan deklarasi penolakan terhadap wacana Pemakzulan, yang dimana isi deklarasi sebagai berikut:

Kami Pemuda dan Mahasiswa :
1. Menolak Wacana Pemakzulan karena dapat memicu terjadinya perpecahan bangsa
2. Siap ikut serta menjaga kedamaian dan ketentraman di tahun politik 2024.(*)