TEKNO – Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mengungkapkan adanya sejumlah kerentanan keamanan siber pada aplikasi populer Zoom dan GitLab.
Temuan ini berpotensi dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggung jawab untuk melakukan serangan siber apabila tidak segera ditangani oleh pengguna maupun pengelola sistem.
Dalam keterangannya, BSSN menyebutkan bahwa kerentanan tersebut dapat membuka celah terhadap berbagai risiko, mulai dari akses tidak sah, gangguan layanan, hingga kemungkinan kebocoran data sensitif.
Mengingat Zoom dan GitLab banyak digunakan oleh instansi pemerintah, sektor pendidikan, serta dunia usaha, temuan ini dinilai memiliki dampak yang cukup luas.
Pada aplikasi Zoom, kerentanan ditemukan pada beberapa komponen yang berpotensi memungkinkan penyerang menjalankan kode berbahaya atau mengambil alih sistem apabila pengguna masih menggunakan versi lama.
Sementara itu, pada GitLab, celah keamanan dapat dimanfaatkan untuk mengganggu ketersediaan layanan maupun melewati mekanisme keamanan tertentu jika tidak dilakukan pembaruan.
BSSN mengimbau seluruh pengguna, khususnya instansi pemerintah dan organisasi strategis, untuk segera melakukan pembaruan (patching) ke versi terbaru yang telah disediakan oleh pengembang aplikasi.
Selain itu, BSSN juga menekankan pentingnya penerapan langkah-langkah keamanan tambahan, seperti penggunaan autentikasi dua faktor (two-factor authentication/2FA) dan pengelolaan hak akses pengguna secara ketat.
“Pembaruan sistem dan kewaspadaan terhadap potensi kerentanan merupakan langkah penting dalam menjaga keamanan siber nasional,” demikian imbauan BSSN dalam pernyataan resminya yang dikutip Rabu (04/2/2026).
Dengan meningkatnya ancaman siber secara global, BSSN terus mendorong peningkatan kesadaran dan kesiapan seluruh pemangku kepentingan agar risiko serangan siber dapat diminimalkan.(*)





