BERANDANEWS – Makassar, Jelang Musyawarah Daerah (Musda) DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan kian memanas. Sejumlah tokoh internal partai disebut telah menemui Ketua Umum DPP Golkar, Bahlil Lahadalia, untuk meminta restu maju sebagai calon ketua.
Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPD I Golkar Sulsel, Muhidin M Said, membenarkan adanya pertemuan tersebut. Namun, ia enggan mengungkap siapa saja kader yang sudah bertemu dengan ketua umum.
“Memang sudah ada yang ketemu Ketua Umum, tapi pada akhirnya akan muncul satu nama yang disepakati secara mufakat,” ujarnya.
Muhidin menilai tingginya dinamika menjelang Musda sebagai sinyal positif. Banyaknya figur yang berminat memimpin Golkar Sulsel dianggap mencerminkan semangat membesarkan partai.
Meski begitu, ia menegaskan seluruh proses akan mengedepankan musyawarah mufakat dengan melibatkan seluruh pemilik suara.
Di sisi lain, peran Ketua Umum Golkar dinilai sangat menentukan. Diskresi dari Bahlil Lahadalia disebut bisa menjadi pintu bagi kandidat yang belum memenuhi syarat formal, termasuk ketentuan Prestasi, Dedikasi, Loyalitas, dan Tidak Tercela (PDLT) maupun dukungan minimal 30 persen.
“Kalau tidak memenuhi syarat, harus ada diskresi. Kalau tidak ada, berarti tidak berkenan untuk maju,” tegas Muhidin.
Dua Nama Menguat
Sementara itu, Plt Wakil Sekretaris DPD I Golkar Sulsel, Arief Rosyid, mengungkapkan bahwa bursa calon ketua kini mengerucut pada dua nama, yakni Ilham Arief Sirajuddin dan Andi Ina Kartika Sari.
Keduanya diketahui telah melakukan pertemuan terpisah dengan Bahlil di Jakarta.
“Sampai hari ini kandidat sudah mengerucut tinggal dua nama, Pak Aco dan Andi Ina. Hanya mereka yang dipanggil langsung oleh Ketua Umum,” kata Arief.
Ia memperkirakan peluang munculnya kandidat baru semakin kecil mengingat waktu pelaksanaan Musda yang semakin dekat. Agenda tersebut diprediksi digelar pertengahan Mei 2026, sebelum Hari Raya Iduladha.
IAS Berharap Diskresi
Nama Ilham Arief Sirajuddin (IAS) disebut sebagai salah satu kandidat yang berpeluang mengandalkan diskresi ketua umum. Mantan Wali Kota Makassar dua periode itu dinilai masih memiliki kendala administratif untuk memenuhi syarat pencalonan.
Salah satu syarat utama adalah pengalaman sebagai pengurus partai dalam periode tertentu. IAS disebut belum genap memenuhi ketentuan tersebut.
Selain itu, faktor politik keluarga juga menjadi perhatian. Istri dan anak IAS diketahui masih aktif di partai lain, yakni Partai NasDem dan Partai Demokrat. Kondisi ini dinilai menjadi pertimbangan serius terkait loyalitas dan soliditas di internal Golkar.
Meski demikian, IAS tetap dipandang sebagai figur kuat. Pengalamannya memimpin Makassar serta jaringan politik yang luas menjadi modal signifikan dalam perebutan kursi ketua Golkar Sulsel.
Dengan berbagai dinamika yang berkembang, keputusan akhir tetap berada di tangan Ketua Umum. Restu Bahlil Lahadalia dipastikan akan menjadi faktor penentu dalam pertarungan menuju kursi Ketua DPD I Golkar Sulawesi Selatan.(*)






