BERANDANEWS – Jakarta, Penetapan 1 Syawal 1447 H Hari Raya Idulfitri di Indonesia besar kemungkinan akan berbeda.
Hal ini biasanya terjadi karena perbedaan metode penentuan awal bulan Hijriah di antara organisasi atau negara.
Menanggapi perbedaan tersebut, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengimbau warga Muhammadiyah dan umat Islam di Indonesia hendaknya menyikapi dengan sikap saling menghormati.
Ia juga berharap berbagai ruang publik dapat dimanfaatkan untuk pelaksanaan salat Idulfitri, terlepas dari adanya perbedaan waktu perayaan di kalangan umat Islam.
“Pada substansinya, mari Idulfitri ini, baik dalam kesamaan maupun perbedaan, kita jadikan momentum untuk menggali dan mengimplementasikan sumber-sumber pencerahan agama bagi kehidupan kita—baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, berbangsa, bernegara, hingga kehidupan global,” jela Haedar, dalam Silaturahmi Ramadan 1447 H Pimpinan Pusat Muhammadiyah bersama Media pada Senin (16/3) kemarin.
Haedar Nashir juga menegaskan bahwa peran media memiliki posisi strategis, dan memiliki kontribusi penting dalam menyebarluaskan gagasan, pemikiran, serta berbagai ikhtiar Muhammadiyah dalam membangun persatuan umat sekaligus memajukan peradaban Islam.
“Sudah waktunya umat Islam memiliki satu kalender bersama dalam lingkup global. Ini menjadi tonggak penting bagi persatuan umat tanpa adanya perbedaan penentuan waktu ibadah,” ujar Haedar.
Ia menjelaskan bahwa gagasan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) bukan sekadar persoalan teknis penanggalan, melainkan bagian dari upaya besar untuk membangun kesatuan umat serta mendorong kemajuan peradaban Islam di tingkat global.
Selaras dengan hal tersebut, Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhammad Sayuti menyampaikan apresiasi kepada rekan-rekan media yang selama ini berperan aktif dalam menyampaikan berbagai gagasan, program, serta dakwah Muhammadiyah kepada masyarakat luas.
Ia menegaskan bahwa hubungan yang baik antara Muhammadiyah dan media menjadi salah satu faktor penting dalam memperluas dampak dakwah serta kerja-kerja nyata Persyarikatan di tengah masyarakat.
“Atas nama Pimpinan Pusat, kami mengucapkan terima kasih atas kerja sama yang telah terjalin selama ini. Tanpa dukungan rekan-rekan media, Muhammadiyah tentu akan lebih berat dalam menyiarkan dakwah, kinerja, serta dampaknya kepada masyarakat,” ungkap Sayuti.
Dalam forum tersebut juga disampaikan semboyan yang menjadi semangat gerakan penyatuan kalender Islam, yakni “One Calendar, One Ummah, One Civilization.” Semboyan ini mencerminkan harapan Muhammadiyah agar kesatuan waktu ibadah dapat menjadi fondasi bagi terwujudnya persatuan umat sekaligus kemajuan peradaban Islam di masa depan.(*)





