KOLOM – Saya mendapat ole-ole respons yang padat, tajam, sangsi, menguliti, tapi sedikit menghibur. Respons ini datang dari seorang kawan Professor, Anwar Sadat. Pernah sama-sama bekerja dalam satu pusat kajian di kampus kami, tapi pindah ke Sekolah Tinggi Islam Negeri Majene.
Dia menjadi pejabat kampus di sana, sambil tetap mempertahankan semangat kajiannya seperti saat bersama di Makassar.
Sengaja saya tampilkan kritik beliau, karena saya berharap ada yang mampu memenuhi “tuntutan” idealitasnya dari para pembaca.
Saya sendiri belum mampu memenuhi dan karenanya saya “angkat tangan.” Berikut kritiknya terhadap catatan saya, “menyoal diri yang belum selesai.”
“Pertama, gagasan inti tulisan antum amat kuat secara moral dan spiritual, tapi masih dominan berbasis pengalaman personal dan metafora reflektif.
Hal itu memberi daya pikat literer, namun bagi kami sebagai pembaca yang mencari pijakan teoritis atau empiris (misalnya dari psikologi eksistensial, sufisme, atau sosiologi kepribadian), tulisan ini tampak belum menggali cukup dalam.
Akan lebih kuat bila antum mengaitkan “diri yang belum selesai” dengan gagasan klasik tentang tazkiyatun nafs dalam Islam, atau konsep “self-actualization” ala Maslow dan Frankl. Dengan begitu, refleksi personalnya akan berdiri di atas fondasi keilmuan yang lebih kokoh.
Kedua, narasi tentang “tidak selesai dengan diri” terasa menitikberatkan pada sisi moral individu, seolah-olah masalah batin semata tanggung jawab personal. Padahal, dari perspektif sosiologis, kegelisahan eksistensial modern juga lahir dari tekanan sosial—budaya konsumtif, media yang menonjolkan perbandingan, sistem nilai yang serba kompetitif.
Jika dimensi sosial ini disentuh, analisis antum akan lebih lengkap, bukan hanya mengajak manusia introspeksi, tetapi juga menyadarkan bahwa lingkungan kita membentuk pola “tidak selesai” itu secara struktural.
Ketiga, gaya tulis antum yang alegoris dan emotif kadang kehilangan ketegasan definisional. Misalnya, apa sebenarnya ciri “diri yang selesai”? Apakah cukup dengan menerima realitas, atau adakah indikator konkrit dalam praktik spiritual, sosial, dan psikologis? Pembaca yang kritis mungkin ingin menemukan garis pembeda yang lebih jelas agar refleksi ini tidak berhenti pada keindahan bahasa, tetapi juga memberi arah praktis.
Namun di balik itu semua, harus diakui, kekuatan Prof Hamdan justru terletak pada ketulusan reflektif dan keberaniannya untuk menyatakan bahwa dirinya sendiri belum selesai. Dalam dunia di mana banyak pemimpin tampil seolah “paling tahu,” pengakuan itu adalah bentuk kerendahan hati intelektual yang langka. Kritik ini lebih kepada penyempurnaan, bukan penyangkalan nilai gagasannya.”

Penulis
Hamdan Juhannis
Rektor UIN Alauddin





