Ditinggal Pengguna Muda? TikTok Mulai Kehilangan Pesona, Upscroll Jadi Pelarian Baru

Ilustrasi

TEKNO – Selama hampir satu dekade, TikTok identik dengan tren viral, joget singkat, dan algoritma “ajaib” yang bisa membuat siapa pun mendadak terkenal. Namun memasuki 2026, lanskap media sosial mulai berubah. Di berbagai forum digital dan komunitas kreator, muncul satu pertanyaan yang sama: apakah TikTok mulai ditinggalkan?

Di saat yang sama, nama platform baru seperti Upscroll kian sering terdengar. Aplikasi ini disebut-sebut sebagai alternatif yang lebih segar dan “ramah kreator”. Fenomena ini menandai babak baru dalam persaingan media sosial berbasis video pendek.

Tanda-Tanda Kejenuhan terhadap TikTok

Beberapa tahun terakhir, TikTok tumbuh sangat cepat. Namun pertumbuhan pesat juga membawa tantangan. Sejumlah pengguna mengaku mulai mengalami kejenuhan, baik sebagai penonton maupun kreator.

1. Algoritma yang Dianggap Terlalu Dominan
Dulu dipuji karena akurat membaca minat pengguna, kini algoritma TikTok justru sering dikritik. Banyak kreator merasa jangkauan konten mereka tidak lagi konsisten. Video dengan kualitas serupa bisa mendapat hasil yang sangat berbeda, tanpa penjelasan yang jelas.

Bagi kreator yang menggantungkan branding atau bisnis pada platform ini, ketidakpastian algoritma menjadi risiko besar.

2. Persaingan Konten yang Terlalu Padat
Jumlah kreator yang membludak membuat persaingan makin ketat. Konten harus semakin ekstrem, sensasional, atau mengikuti tren tertentu agar bisa menonjol. Tidak sedikit kreator yang merasa lelah harus terus “mengejar algoritma”.

3. Kekhawatiran Privasi dan Data
Isu privasi digital makin disadari publik. Sebagian pengguna menjadi lebih selektif terhadap aplikasi yang mengumpulkan data dalam jumlah besar. Walau tidak selalu membuat orang langsung berhenti memakai TikTok, faktor ini ikut memengaruhi persepsi.

4. Perubahan Tren Generasi Muda
Pengguna muda dikenal cepat berpindah platform. Ketika sebuah aplikasi dianggap terlalu “ramai orang tua” atau terlalu komersial, mereka cenderung mencari ruang baru yang terasa lebih segar dan eksklusif.

Mengapa Upscroll Menarik Perhatian?
Di tengah kejenuhan itu, Upscroll hadir membawa konsep yang diklaim lebih sederhana. Walau masih tergolong pemain baru, platform ini mulai dibicarakan karena beberapa hal:

Pendekatan yang Lebih Simpel
Upscroll menonjolkan pengalaman menonton dan mengunggah yang tidak terlalu kompleks. Bagi sebagian pengguna, ini terasa lebih ringan dibanding ekosistem TikTok yang sudah sangat penuh fitur.

Narasi “Ramah Kreator”
Upscroll membangun citra sebagai platform yang memberi ruang lebih adil bagi kreator baru. Narasi ini kuat menarik mereka yang merasa tenggelam di platform besar.

Efek FOMO (Fear of Missing Out)
Setiap ada platform baru yang viral, selalu muncul dorongan untuk mencoba lebih dulu. Banyak pengguna tidak ingin ketinggalan tren berikutnya.

Apakah TikTok Akan Tergeser?
Menyebut ini sebagai “akhir TikTok” tentu terlalu dini. Basis pengguna TikTok masih sangat besar secara global, dan platform ini terus berinovasi di fitur, live commerce, hingga monetisasi kreator.

Namun satu hal jelas: loyalitas pengguna media sosial tidak lagi mutlak. Jika sebuah platform dianggap tidak lagi menguntungkan, melelahkan, atau tidak transparan, pengguna bisa dengan cepat berpindah.

Fenomena munculnya Upscroll menunjukkan bahwa pasar media sosial selalu terbuka bagi pemain baru. Seperti dulu TikTok menggoyang dominasi platform lama, kini TikTok pun menghadapi tantangan serupa.

Dengan kesimpulan, perpindahan sebagian pengguna dari TikTok ke Upscroll bukan sekadar soal aplikasi baru, melainkan cerminan perubahan perilaku digital. Pengguna kini lebih sadar algoritma, privasi, dan nilai dari konten yang mereka buat.

Bagi kreator dan pelaku industri digital, pesan utamanya sederhana: jangan bergantung pada satu platform saja. Dunia media sosial bergerak cepat, dan tren hari ini bisa berubah dalam hitungan bulan.(red)