BERANDANEWS – Makassar, Polemik pelaksanaan Pemilihan Mahasiswa (Pemilma) Universitas di UIN Alauddin Makassar yang berada di bawah kendali Lembaga Penyelenggara Pemilihan (LPP) Universitas terus menuai respons dari berbagai elemen mahasiswa. Kali ini, sikap tegas datang dari Dewan Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi (DEMA FDK).
Ketua Umum DEMA FDK, Muhammad Ringga, menegaskan bahwa Pemilma Universitas merupakan ruang demokrasi bersama yang tidak boleh direduksi oleh kepentingan sempit maupun pendekatan administratif yang mengabaikan dinamika mahasiswa.
“Pemilma Universitas adalah milik seluruh mahasiswa UIN Alauddin Makassar. Demokrasi kampus harus dijalankan dengan menjunjung nilai keterbukaan, partisipasi, toleransi, dan prinsip demokratis,” tegas Muhammad Ringga dalam keterangan tertulis, Kamis (29/1/2026).
Menurutnya, jika nilai-nilai tersebut benar-benar dijadikan pondasi, maka ruang kontestasi harus dibuka secara adil dan kompetitif, bukan justru dipersempit melalui proses yang mematikan dinamika politik kampus.
“Kalau memang demokrasi dijunjung, maka bertarung saja dulu. Kekuatan politik itu ditakar dari tensi dinamika antar fakultas. Siapa yang pandai menjahit pertarungan, dialah yang berpotensi keluar sebagai pemenang di ujung,” lanjutnya.
Ringga menilai bahwa kontestasi terbuka adalah mekanisme sehat untuk menguji legitimasi dan kapasitas kepemimpinan mahasiswa.
Upaya meredam dinamika justru berpotensi mencederai demokrasi dan melahirkan ketegangan yang lebih besar.
Ia juga mengingatkan agar birokrasi kampus tidak memandang persoalan Pemilma secara parsial dan administratif semata, melainkan memahami secara utuh konteks sosial dan politik yang berkembang di kalangan mahasiswa.
“Birokrasi kampus harus lebih jeli membaca situasi. Jangan mengabaikan dinamika yang berkembang. Jika salah langkah, bukan tidak mungkin ini memicu konflik internal maupun konflik horizontal antar mahasiswa,” ujarnya.
DEMA FDK menegaskan sikapnya untuk tetap berada dalam koridor konstitusional mahasiswa, namun pada saat yang sama siap mengawal demokrasi kampus sampai tuntas.
“Intinya, Dakwah siap bertarung sampai ujung. Jangan baku tekkel. Demokrasi tidak boleh diselesaikan dengan cara-cara kasar, tertutup, atau manipulatif,” pungkas Ringga.
Sikap ini menambah deretan suara kritis mahasiswa yang mendesak agar pelaksanaan Pemilma Universitas di UIN Alauddin Makassar benar-benar mencerminkan demokrasi substantif, bukan sekadar prosedural.(*)





