Musda Golkar Sulsel: Yang Terlihat Kuat Belum Tentu Menang

Pengamat politik dari Mahasiswa Magister Ilmu Politik Universitas Hasanuddin, Muhammad Nur Ihsan Hamsah

BERANDANEWS – Makassar, Framing dukungan sejumlah DPD II Partai Golkar yang ditampilkan ke ruang publik menjelang Musda Golkar Sulawesi Selatan menuai sorotan. Langkah tersebut dinilai lebih sebagai upaya membangun persepsi politik ketimbang mencerminkan kekuatan riil dalam kontestasi internal partai.

Pengamat politik dari Mahasiswa Magister Ilmu Politik Universitas Hasanuddin, Muhammad Nur Ihsan Hamsah, menegaskan bahwa tradisi Musda Golkar selama ini justru bergerak dalam dinamika internal yang senyap dan kompleks.

“Golkar bukan partai yang menentukan kepemimpinan melalui deklarasi terbuka. Yang paling menentukan adalah konsolidasi elit dan kemampuan membaca struktur kekuasaan internal,” ujarnya di Makassar, Rabu (14/1/2026).

Ihsan mengingatkan bahwa sejarah Musda Golkar Sulsel menunjukkan betapa cairnya peta dukungan DPD II. Ia mencontohkan Musda yang sempat menguatkan Hamka B Kady dengan mayoritas dukungan struktural, namun hasil akhirnya justru melahirkan Taufan Pawe sebagai formatur terpilih.

“Itu membuktikan bahwa rekomendasi DPD II bukan variabel penentu tunggal,” katanya.

Menurut Ihsan, fenomena tersebut sejalan dengan pandangan Angelo Panebianco tentang partai politik sebagai organisasi yang dikendalikan oleh dinamika internal dan koalisi elit. Dalam teori Panebianco, keputusan strategis partai tidak ditentukan oleh dukungan formal di tingkat bawah, melainkan oleh keseimbangan kekuasaan di pusat dan kemampuan kandidat menguasai sumber daya organisasi.

“Dalam partai mapan seperti Golkar, struktur bukan sekadar administratif, tetapi arena tawar-menawar elit. Karena itu, dukungan terbuka di tingkat DPD II sering kali hanya simbolik dan sangat mungkin berubah menjelang forum resmi,” jelasnya.

Ia menambahkan, ideologi karya dan kekaryaan yang menjadi fondasi Golkar telah membentuk kader dengan tingkat kedewasaan politik yang relatif matang. Konsekuensinya, Musda Golkar lebih merupakan ujian kemampuan mengelola relasi internal, menjaga stabilitas partai, dan memahami kultur organisasi, ketimbang sekadar adu klaim dukungan.

“Dalam politik Golkar, yang terlalu dini memamerkan dukungan justru berisiko terjebak pada ilusi kekuatan. Sejarah menunjukkan, yang bertahan bukan yang paling gaduh di publik, melainkan yang paling mampu bekerja dalam senyap dan membaca arah kekuasaan partai,” pungkas Ihsan.(,)