
BERANDANEWS – Maros, Komitmen tinggi terhadap pengabdian masyarakat kembali ditunjukkan oleh Tim PPK Ormawa HIMAKAHA Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (Unhas), yang baru saja menyelesaikan pendataan ternak di Desa Pattiro Deceng, Kecamatan Camba, Kabupaten Maros.
Selama empat hari penuh, sejak 20 Juli 2025, para mahasiswa ini menyusuri perbukitan dan medan terjal demi mengumpulkan data peternakan yang akurat dari tiga dusun terpencil.
Pendataan dilakukan di Dusun Ujung, Dusun Satoa, dan Dusun Maddenge — wilayah tertinggi dan paling sulit diakses di desa tersebut.
Dengan berjalan kaki dari rumah ke rumah, tim mencatat jenis ternak, populasi hewan, hingga sistem pemeliharaan yang digunakan oleh masyarakat. Kegiatan ini merupakan tahap awal dari program Smart Agriculture and Technology for Optimalized Animal Farming (SATOA), inisiatif mahasiswa untuk mewujudkan peternakan berbasis teknologi tepat guna.
“Kami sangat bersyukur dan bangga kepada seluruh tim yang tetap menjaga semangatnya, meskipun harus berjalan kaki jauh dan menghadapi medan sulit. Ini adalah bentuk tanggung jawab kami menghadirkan data akurat demi kelanjutan program,” kata Ketua Tim PPK Ormawa HIMAKAHA FK Unhas, Abid Nabil.
Selain mencatat data teknis, tim HIMAKAHA juga membuka ruang diskusi dengan masyarakat.
Warga menyampaikan berbagai keluhan dan harapan terkait tantangan yang mereka hadapi dalam beternak, mulai dari keterbatasan pakan hingga kurangnya akses terhadap teknologi.
“Warga sangat terbuka, bahkan memberi kami masukan dan cerita soal tantangan beternak di sini. Itu membuat kami lebih yakin bahwa program ini memang dibutuhkan,” tambah Abid.
Selama proses pendataan, Ketua Ormawa HIMAKAHA FK Unhas, Rayhan, turut terjun langsung ke lapangan mendampingi tim.
Baginya, keterlibatan langsung di tengah masyarakat memberikan pengalaman baru dalam hal kepemimpinan dan penguatan solidaritas tim.
“Ini adalah tantangan bagi saya pribadi untuk terus dan senantiasa mendampingi tim. Saya belajar bahwa kepemimpinan bukan hanya soal memberi arahan, tetapi turun langsung, mendengar keluhan, dan menjadi bagian dari perjuangan bersama,” ujar Rayhan.
Data yang diperoleh tidak akan berhenti di meja dokumentasi. Tim HIMAKAHA merancang tindak lanjut berupa pelatihan peternak, penguatan kelembagaan, dan penerapan teknologi peternakan sesuai karakteristik wilayah.
Pendataan ini juga akan dijadikan pijakan membangun kemitraan jangka panjang antara mahasiswa dan masyarakat desa.
“Pendataan ini bukan sekadar tugas. Ini adalah awal dari misi besar kami untuk menjadikan Desa Pattiro Deceng sebagai pusat inovasi peternakan yang tangguh dan adaptif,” tegas Rayhan.
Upaya mahasiswa HIMAKAHA FK Unhas ini menunjukkan bahwa kontribusi generasi muda dalam pembangunan desa tidak sebatas teori, tapi hadir nyata di tengah masyarakat.
Pendataan hingga ke pelosok tertinggi di Pattiro Deceng ini menjadi bukti, dengan semangat kolaborasi dan dedikasi, perubahan nyata bisa dimulai dari desa.(*)