OPINI – Sulawesi Selatan sedang berada di persimpangan sejarah. Tahun 2026 bukan sekadar angka di kalender; ia adalah panggilan bagi siapa pun yang mampu menafsirkan arus zaman, menyalurkan gejolak politik, dan menyalakan harapan rakyat.
Di tengah kompleksitas ini, satu nama muncul dengan kekuatan yang tak bisa diabaikan: Ilham Arif Sirajuddin.
Sejarah mengajarkan hal sederhana: pencerah muncul di saat krisis. Mandela keluar dari penjara untuk membawa harapan bagi Afrika Selatan; Gandhi menyalakan lentera di tengah gelombang kekerasan; Soekarno menyalakan api kemerdekaan di tengah negeri yang rapuh. Ilham, dalam konteks Sulawesi Selatan, bukan meniru mereka, ia adalah jawaban lokal yang lahir dari denyut rakyat, dari tradisi manusia Sulawesi Selatan mengajarkan:
“Tana’ Bulo’ mappadennu; yang memegang layar dan perahu akan menuntun arah.”
Politik lokal Sulawesi Selatan bukan sekadar arena debat atau perebutan kursi. Ia adalah medan ujian: kota besar dan desa terpencil memiliki kepentingan yang berbeda, adat dan birokrasi bersinggungan, dan kepentingan partai seringkali melampaui aspirasi rakyat. Ilham menavigasi semuanya dengan keseimbangan yang jarang terlihat. Ia adalah mediator sekaligus visioner—bukan sekadar pengambil keputusan, tetapi penafsir zaman.
Bayangkan rakyat Sulawesi Selatan menatapnya seperti pelaut menatap bintang penunjuk arah di malam gelap. Mereka menunggu bukan sekadar janji, tetapi kepastian: arah yang jelas, kebijakan yang berpihak pada rakyat, dan keberanian yang menyalakan cahaya di tengah badai politik.
2026 akan menjadi titik balik sejarah jika figur seperti Ilham diberi ruang untuk menulis arah.
Ia hadir di saat gejolak politik tampak seperti badai tanpa arah. Ia hadir sebagai matahari di ufuk politik Sulawesi Selatan: menembus kabut, menerangi jalan, dan menunjukkan bahwa masa depan bukan milik mereka yang menakut-nakuti rakyat, tetapi milik mereka yang berani menafsirkan panggilan zaman.
Sulawesi Selatan membutuhkan pencerah. Gejolak politik hanyalah panggilan zaman, dan Ilham Arif Sirajuddin adalah jawabannya. Ia bukan sekadar tokoh; ia simbol kapasitas, karakter, dan kecerdasan lokal yang mampu menyalakan harapan yang sempat redup. Ia adalah jawaban nyata bagi rakyat yang rindu kepastian, dan simbol bahwa Sulawesi Selatan mampu menulis sejarahnya sendiri.
Sebagai anak muda , saya percaya satu hal, jika Zaman telah berkehendak, maka sang pencerah hadir untuk menjawabnya. Selamat tahun baru 2026, Selamat datang kembali Bapak Ilham Arif Sirajudin di panggung politik Sulawesi Selatan.
Penulis
Oleh Ilyas Maulana, S.H.





